Ceramah di Hadapan Ratusan Pengikut LDII, Kini Mereka Lebih Terbuka

Hariri HJ • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 18:01 WIB
Gambar ilustrasi pengajian bersama LDII. (Rosadi Jamani/ai)
Gambar ilustrasi pengajian bersama LDII. (Rosadi Jamani/ai)

HALO JEMBER - Wak, saya ingin cerita. Tinggalkan sekejab soal Sutet Gibran, atau Silpester yang diangkat jadi komisaris, atau soal penjara rasa hotel bintang lima itu. Saya baru saja ceramah di hadapan ratusan pengikut LDII. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kamis, 24 September 2026, saya berdiri di Pendopo Gubernur Kalbar di hadapan ratusan pengikut LDII yang sedang Muswil. Masalahnya, saya bukan orang LDII.

Lebih masalah lagi, biasanya saya menulis. Kali ini ceramah. Kalau menulis, mentok tinggal dihapus. Kalau ceramah, yang bisa dihapus cuma keringat. Apalagi tidak ada Koptagul. Waduh!

Baca Juga: Oknum Pemimpin Agama Kok Suka Begituan, Edisi Khusus Malam Jumat

Tema saya, “Literasi Informasi Keagamaan, Menangkal Disinformasi, Memperkuat Dakwah dan Persatuan Umat.” Terus terang, awalnya saya awam soal LDII, yang dahulu lebih dikenal dengan Islam Jamaah. Walau belakangan mereka tak mau dikaitkan dengan Islam Jamaah ini. Malam sebelum tampil saya tidak tidur. Swear dah, tidak tidur!

Saya buka YouTube, browsing, membaca artikel. Saya pelajari sejarah, perkembangan, kontroversi, sampai Paradigma Baru LDII. Di internet, tudingan negatif terhadap LDII cukup banyak. Tetapi organisasi ini terus berkembang. Ketua LDII Kalbar Susanto, bercerita dirinya sering diminta memberikan klarifikasi. Kadang ia merasa capek juga.

Namun ada kalimat menarik, tudingan negatif dianggap seperti vitamin. Bukan vitamin yang diminum, wak! Maksudnya, tudingan itu justru menjadi semangat untuk terus berbuat yang terbaik bagi umat.

Baca Juga: Pelantikan Rektor UINSA oleh Menteri Agama Disambut Gelombang Penolakan, Akh Muzakki Diduga Lakukan Gratifikasi terkait Sertifikasi Tenaga Pendidik

Saya kemudian menjelaskan Paradigma Baru LDII. Apa isinya? LDII tidak lagi menganggap umat Islam di luar kelompok sebagai kafir atau najis. Masjid LDII terbuka untuk umum, menerima pengajar dari luar LDII, jamaah bersedia diimami imam dari luar LDII, tidak menggunakan sistem keamiran, bukan penerus Islam Jamaah, serta bersedia bersama ormas Islam lain mengikuti landasan berpikir keagamaan sebagaimana ditetapkan MUI.

Saya sampaikan itu di depan mereka. Tepuk tangan pecah. Dalam hati saya, “Alhamdulillah, begadang semalam tidak sia-sia.”

Susanto juga menyampaikan, pengikut LDII kini sekitar 30 juta. Menurutnya LDII telah menjadi ormas Islam ketiga terbesar di Indonesia setelah NU dan Muhammadiyah. Saya juga mendapat informasi menarik, nama LDII pemberian dari pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri saat itu, Rudini.

Tetapi inti ceramah saya bukan membela atau menyerang LDII. Saya bicara soal literasi. Sebab zaman sekarang, video 30 detik sering dipercaya lebih cepat dari buku 300 halaman. Tudingan langsung dibagikan, klarifikasi dilewati. Kalau begini terus, algoritma bisa naik pangkat menjadi ustaz.

Menariknya, jam ceramah saya sebenarnya adalah jadwal memberikan kuliah. Agar mahasiswa tidak kehilangan pelajaran, saya ajak mereka ikut ke Pendopo. Jadilah hari itu kuliah di tengah ratusan pengikut LDII.

Mahasiswa duduk bersama mereka, mendengarkan ceramah, belajar langsung tentang literasi informasi keagamaan dan kehidupan organisasi. Setelah acara, mereka mendapat nasi kotak. Senangnya bukan main! Kuliah dapat. Pengalaman dapat. Nasi kotak dapat. Mahasiswa mana yang tidak bahagia?

Di akhir acara saya memberikan oleh-oleh berupa tips belajar menulis. Walau waktunya singkat, dasar menulis artikel sudah mereka dapatkan. Mereka senang. Saya pun mendapat plakat, satu buku tebal tentang LDII, dan...satu amplop putih. Ups! Jangan tanya isinya. Biarlah amplop itu menjadi rahasia saya dengan semesta.

Saya pulang membawa satu pelajaran penting. Jangan menghakimi sesuatu belum kita pelajari. Kritik boleh. Pertanyaan boleh. Klarifikasi wajib. Tetapi literasi harus jalan lebih dulu.

Baca sebelum bicara. Periksa sebelum percaya. Pahami sebelum menghakimi. Sebab dakwah di zaman banjir informasi tidak cukup dengan suara keras. Dakwah membutuhkan kepala yang dingin, hati yang lapang, dan literasi yang panjang.

Kalau kritik bisa dianggap vitamin, mungkin kita tidak perlu alergi terhadap perbedaan. Kalau kuliah dapat nasi kotak...itu namanya ilmu masuk, perut pun ikut tersenyum. Begitulah ceritanya, wak.

Penulis, Rosadi Jamani #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM

Editor : Hariri HJ
Ceramah di Hadapan Ratusan Pengikut LDII Kini Mereka Lebih Terbuka Gubernur Kalbar Ketua LDII Kalbar Susanto