HALO JEMBER - Tulisan saya berjudul “Kalau Semua Manusia Berhenti Menyembah, Tuhan Masih Ada?” ramai juga pembacanya. Artikel berbau filsafat ternyata banyak yang suka. Saya coba hadirkan lagi narasi lain masih lingkup filsafat tentang orang sesat vs benar. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ada profesi tidak pernah bangkrut, petugas penyesatan. Syiah dicap sesat, Ahmadiyah dituduh menyimpang, Gafatar dan kelompok Lia Eden, sesat. LDII udah khatam dicap sesat. Bahkan, sekelas NU gara-gara tahlian dan ziarah kubur tak jarang dicap sesat juga. Siapa pun yang berbeda, sesat. Mungkin ente pun pernah dicap sesat.
Logikanya sederhana. Kalau tidak sesuai tafsir sendiri, sesat! Kalau membantah, pengikut iblis! Kalau masih tersenyum, jangan-jangan sudah bersekutu dengan setan!
Baca Juga: Ceramah di Hadapan Ratusan Pengikut LDII, Kini Mereka Lebih Terbuka
Belum selesai orang menjelaskan pendapatnya, meluncurlah peluru verbal, laknatullah! Kerak neraka! Pengikut iblis! Waduh, cak! Ini diskusi agama atau audisi film horor? Baru berbeda pendapat, seseorang langsung mendapat paket wisata neraka lengkap dengan penginapan abadi.
Yang lebih ajaib, si pemberi vonis berbicara seolah-olah sudah memegang tiket VIP surga. Dadanya membusung, dagunya terangkat, telunjuknya bergerak seperti kompas penunjuk kesesatan. Ia merasa dirinya lurus. Sedangkan orang lain sudah masuk daftar hitam akhirat.
Pertanyaannya sederhana, siapa menjamin dirinya sendiri pasti masuk surga?
Adakah malaikat datang membawa amplop bersegel, bertuliskan, “Selamat! Anda lolos seleksi akhirat, silakan masuk tanpa antre”? Tidak ada manusia bisa mengklaim memiliki jaminan semacam itu. Dalam Islam, manusia berharap pada rahmat Allah, bukan mencetak sendiri sertifikat keselamatan.
Anehnya, nasib sendiri belum diketahui, nasib orang lain sudah diputuskan. Dirinya masih menunggu pengumuman, tetangganya sudah diusir dari surga. Ia belum tahu hasil pemeriksaan akhirat, tetapi sudah merangkap ketua pengadilan, jaksa, hakim, sekaligus petugas pembakar tiket.
Kalau begini, Tuhan perlu bertanya kepada bagian kepegawaian langit, “Siapa yang mengangkat manusia ini menjadi Direktur Neraka? Saya kok tidak merasa menandatangani SK-nya?”
Mari pinjam kacamata Socrates. Sebelum sibuk mengoreksi orang lain, periksa dahulu pengetahuan sendiri. Jangan-jangan yang merasa paling benar justru belum memahami keterbatasan manusia.
Mengkritik ajaran tentu boleh. Keyakinan boleh dipertahankan. Pendapat boleh diuji. Namun, mengatakan, “Menurut saya, pendapatmu keliru,” berbeda jauh dari memastikan, “Kamu pasti menjadi kerak neraka.”
Kalimat pertama membuka diskusi. Kalimat kedua seolah-olah membocorkan keputusan pengadilan Tuhan. Ini bukan lagi dakwah, melainkan pelayanan administrasi akhirat tanpa izin operasional.
Nuan bayangkan semua kelompok melakukan hal serupa. Kelompok A menuduh B, B menuduh C, C membalas A. Akhirnya, umat sibuk mengirim tetangga ke neraka. Sementara semua orang berebut menjadi petugas loket surga.
Lantas, siapa manusia yang benar-benar lurus? Apakah paling keras meneriakkan laknatullah? Yang paling banyak menyebut orang sebagai pengikut iblis? Atau yang mampu mempertahankan keyakinan tanpa kehilangan akal sehat, adab, dan kerendahan hati?
Sebab, kesalehan bukan lomba paling cepat memvonis. Pengetahuan agama bukan surat kuasa menentukan nasib abadi manusia. Ironisnya, orang yang gemar menuduh orang lain sombong bisa sedang memamerkan kesombongannya sendiri. Telunjuknya menunjuk keluar, tiga jari lainnya justru menunjuk dirinya.
So, sebelum mengirim orang lain ke neraka, bercerminlah. Jangan-jangan kita terlalu sibuk menjadi Tuhan sampai lupa, kita sendiri hanyalah manusia.
Surga bukan milik komentator paling galak. Neraka bukan wilayah kekuasaan grup WA ormas. Tuhan tidak membutuhkan manusia untuk merangkap jabatan-Nya.
Paling lucu dalam sejarah filsafat bukanlah manusia tersesat mencari Tuhan, melainkan manusia belum tahu nasibnya sendiri, tetapi sudah sibuk menentukan nasib orang lain di hadapan Tuhan.
Belum tentu masuk surga, sudah sok jadi Tuhan. Kesombongan macam apa ini? Naik jabatan tanpa seleksi, dilantik tanpa SK, lalu mengelola neraka bermodalkan jempol!
“Bang, semua ingin masuk surga, tapi tak ada jaminan. Tapi, kenapa manusia bisa menentukan orang lain masuk neraka?”
“Nah, itu yang absurd, wak. Semoga pengukut Partai Koptagul tak dicap sesat.” Ups
Penulis; Rosadi Jamani #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM.
Editor : Hariri HJ