HALO JEMBER – Harga cabai Rp 100 ribu per kilogram begitu dirasakan oleh pelaku kuliner terutama yang mengutamakan masakan pedas.
Mie dengan konsep level pedas itu harus punya cara agar masakanannya tetap pedas, walau memakai cabai minimalis.
Berikut cara membuat cabe pedas ala Mie Nyonyor dari Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Pemilik kedai Mie Nyonyor, Ismail Waskira, mengaku, tingginya harga cabai tentu sangat berpengaruh terhadap pelaku usaha sepertinya.
Apalagi dalam setiap menu sangat tergantung pada level kepedasan. “Tidak mungkin juga kami menaikkan harga. Jadi, lebih baik mencari cara lain,” tuturnya.
Cara yang dilakukan Ismail, dari cabai segar itu langsung dijemur di bawah terik matahari. Penjemurannya sekitar 1 jam saja.
Cara itu diyakini semakin memperkuat rasa pedas cabai. “Walau porsi cabai sedikit, tapi rasanya pedas,” imbuhnya.
Selesai dijemur selama satu jam, lanjut Mail, cabai itu selanjutnya direbus selama 15 sampai 20 menit dengan api cukup besar.
Semakin rebus, meningkatkan rasa pedas cabai. “Kalau ada sisa bisa disimpan di freezer atau kulkas,” paparnya.
Setelah cabai direbus, diamkan hingga cabai dingin untuk selanjutnya dihaluskan dengan blender.
Cara ini cukup efektif untuk menghadapi mahalnya harga cabai. “Dengan metode ini tingkat kepedasan cabai bisa dua kali lipat lebih pedas dan bisa minim penggunaan cabai,” imbuhnya.
Seperti diketahui pada Januari 2025 ini daerah di Indonesia dihadapi dengan musim penghujan.
Tingginya intensitas hujan yang hampir menyeluruh di setiap daerah, berdampak ke lahan pertanian.
Lahan tanaman pangan pun tidak sedikit tergenang olah air. Sementara tanaman hortikultura, termasuk cabai juga bernasib sama.
Walau lahannya tidak tergenang oleh air hujan. Tapi karena hujan membuat tanaman cabai rentan terkena penyakit.
Selain daunnya mengelinting, buah cabai juga lebih cepat rusak. Bahkan, sebelum matang merah, tak sedikit cabai busuk terlebih dahulu.
Sehingga, tidak salah dalam kondisi ini banyak petani cabai memilih panen terlebih dahulu. Hal itu dilakukan untuk mengurangi resiko pembusukan akibat air hujan. Untuk mencegah busuk agar matang merah, petani juga membutuhkan tambahan cuan untuk perawatan.
Akibatnya, stok cabe di pasaran menyusut. Permintaan cabai yang tetap dan pasokan turun. Maka hukum ekonomi berlaku. Yaitu harga cabai mahal.
Seperti diketahui, di laman Siskaperbapo area Jember, di semua pasar, harga cabai sejak Selasa (14/1) berada di kisaran Rp 74.600. Angka ini mengalami penurunan dari sebelumnya yang sempat menembus harga Rp 90 ribu pada Kamis (9/1) lalu.
SEJARAH CABE
Cabai atau cabe berasal dari daerah tropis di Amerika Tengah dan Selatan, seperti Peru dan Kolombia.
Cabai sudah dibudidayakan sejak lebih dari 5.000 tahun lalu.
Suku Indian Aztek mulai membudidayakan cabai dengan teknik stek dan cangkok pada tahun 5.200-3.400 SM.
Cabai menyebar ke seluruh dunia melalui penjelajah Spanyol dan Portugis.
Cabai masuk ke Indonesia pada awal abad XV, dibawa oleh Ferdinan Magellan, seorang pelaut Portugis.
Cabai juga menyebar secara tidak langsung oleh para pedagang dan pelaut Eropa yang mencari rempah-rempah ke Nusantara.
Cabai merupakan tanaman semusim berbentuk perdu yang termasuk dalam famili Solanaceae atau terong-terongan. Cabai kaya akan nutrisi, seperti vitamin dan mineral, serta mengandung senyawa tanaman bioaktif yang bermanfaat.
Editor : Halo Jember