Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Lima Kalender di Indonesia Selain Masehi, Salah Satunya Kalender Islam atau Hijriyah

Didik Supriyanto • Selasa, 9 Juli 2024 | 00:38 WIB
Ilustrasi: Kalender
Ilustrasi: Kalender

HALOJEMBER.COM - Di Indonesia, selain kalender masehi, ada beberapa jenis kalender yang digunakan oleh masyarakat Indonesia. Berbagai ragam suku bangsa di Indonesia melahirkan berbagai kalender dengan perhitungan masing-masing.

Setidaknya ada lima jenis kalender yang digunakan oleh masyarakat Indonesia. Dirangkum dari berbagai sumber, inilah lima jenis kalender di Indonesia, selain kalender Masehi.

1. Kalender Islam (Hijriyah)

Masyarakat di Indonesia yang mayoritas beragama Islam tentu tidak asing dengan kalender Hijriyah. Kalender Hijriyah menggunakan perhitungan pergerakan bulan.

Tahun pertama Kalender Hijriyah dimulai saat momen Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan dari Mekkah ke Madinah karena terusir oleh kaum kafir Quraish.

Peristiwa itu disebut dengan hijrah, sehingga kalendernya dinamai dengan kalender Hijriyah. Umat Islam mengenang peristiwa tersebut setiap pergantian tahunnya.

Satu tahun dalam kalender Hijriyah memiliki perhitungan berdasarkan 12 fase bulan dimulai saat terjadinya bulan baru. Bulan pertama diberi nama Muharram dan bulan ke-12 diberi nama Dzulhijjah.

Siklus sinodisnya per bulan tidak sama, ada yang 29 hari, ada pula yang digenapkan menjadi 30 hari dengan berbagai ketentuan. Dalam satu pekan terdapat 7 hari yang dimulai dengan hari ahad hingga hari sabtu.

2. Kalender Jawa

Hampir sama dengan kalender Hijriyah, Kalender jawa juga menggunakan periode peredaran bulan. Siklus pekanannya menggunakan saptawara (tujuh hari) yang dimulai hari ahad sampai hari sabtu.

Untuk memudahkan orang mengingat, dalam kalender jawa terdapat siklus pancawara (5 hari pasaran), yakni pon, wage, kliwon, legi dan pahing.

Baca Juga: Tetapkan Idul Adha Pada Tanggal 17 Juni 2024, Begini Penjelasan Muhammadiyah Tentang Hisab Hakiki Wujudul Hilal

3. Kalender Sunda

Penanggalan Kalender sunda terdiri dari dua sistem yaitu, pertama berdasarkan perhitungan terhadap peredaran bulan atau disebut Kala Candra Caka Sunda. Yang kedua menggunakan sistem perhitungan terhadap peredaran matahari atau Kala Surya Saka Sunda.

Awal bulan atau bulan pertama pada kalender Sunda ialah Kartika dan bulan ke-12nya disebut Asuji. Penyebutan nama bulan berikut jumlah hari untuk tiap bulan, mirip dengan yang digunakan dengan sistem kalender Hijriyah.

4. Kalender Saka

Kalender Saka merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah (candra-surya) atau kalender luni-solar. Era Saka dimulai pada tahun 78 Masehi.

Kalender ini terkadang disebut penanggalan Saliwahana, adalah sebuah kalender yang berasal dari India.

5. Kalender Bali

Kalender Bali adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Hindu Bali di pulau Bali dan Lombok. Kalender ini tidak sama dengan kalender Saka dari India, melainkan kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan elemen-elemen lokal.

Dalam 1 bulan candra atau sasih, disepakati ada 30 hari terdiri dari 15 hari menjelang purnama disebut penanggal atau suklapaksa, diikuti dengan 15 hari menjelang bulan baru (tilem) disebut panglong atau kresnakapsa.

Penanggal ditulis dari 1 pada bulan baru, sampai 15 yaitu purnama, menggunakan warna merah pada kalender cetakan. Setelah purnama, kembali siklus diulang dari angka 1 pada sehari setelah purnama sampai 15 pada bulan mati (tilem) menggunakan warna hitam.

Tahun baru bagi Kalender Bali, diperingati sebagai hari raya Nyepi, bukan jatuh pada sasih pertama (Kasa), tetapi pada sasih kesepuluh (Kadasa).

Idealnya pada penanggal 1, yaitu 1 hari setelah bulan mati (tilem). Sejak hari raya Nyepi, angka tahun Saka bertambah 1 tahun. Menjadi angka tahun surya Masehi dikurangi 78.()

Editor : Halo Jember
#bulan #kalender #Hijriyah #masehi