Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mendorong Keberlanjutan Jeruk Siam di Jember Melalui Penerapan Teknologi Bujangseta

Halo Jember • Jumat, 1 November 2024 | 18:52 WIB
Photo
Photo

HALOJEMBER - Jember tak hanya dikenal dengan kota tembakau atau wisata alam yang menyajikan pemandangan alam hijau nan asri. Dibalik keindahan alamnya tersimpan berbagai macam potensi alam yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. 

Jember juga dikenal sebagai daerah penghasil jeruk siam terbesar di Jawa Timur yang menghasilkan 349.310 ton per tahun 2021. 

Wilayah ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat agribisnis jeruk, terutama di Kecamatan Rambipuji, yang dikenal sebagai kawasan pengembangan baru komoditas hortikultura ini.

Namun, produksi jeruk di Kabupaten Jember belum optimal. Meskipun lahan untuk perkebunan jeruk mengalami perluasan sejak 2021, peningkatan area tanam belum diimbangi dengan hasil panen yang memadai.

Rendahnya produktivitas ini disebabkan oleh metode budidaya konvensional yang masih diterapkan serta tantangan berupa hama dan penyakit tanaman yang belum teratasi sepenuhnya.

Melihat tantangan tersebut, sejumlah mahasiswa Polije yang terdiri dari Dwi Putro Sarwo Setyohadi, Fandyka Yufriza Ali, Rizky Nirmala Kusumaningtyas, dan Refa Firgiyanto melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang didukung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2024.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mitra yaitu kelompok tani Mudi Rezeki dengan menerapkan teknologi Bujangseta (Buah Berjenjang Sepanjang Tahun).

Photo
Photo

Teknologi ini menggabungkan praktik-praktik pertanian yang baik melalui GAP (Good Agricultural Practices) dan GHP (Good Handling Practices) guna menghasilkan produksi jeruk siam yang optimal dari segi kualitas dan kuantitas.

Dwi Putro Sarwo Setyohadi, Ketua Tim Pengabdian, menyampaikan bahwa dukungan dari Kementerian Pendidikan sangatlah penting dalam menyukseskan program ini.

“Kegiatan ini menjadi bukti nyata dari sinergi antara akademisi, pemerintah, dan petani dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di lapangan. Kami berharap metode Bujangseta ini dapat diterapkan secara luas, bukan hanya di Jember tetapi juga di daerah lain yang berpotensi untuk budidaya jeruk siam,” jelasnya.

Metode Bujangseta mengutamakan penerapan manajemen terpadu, yang meliputi manajemen pemangkasan, pemupukan yang tepat, dan pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Dengan metode ini, diharapkan tanaman jeruk dapat berbuah sepanjang tahun, sehingga petani dapat memperoleh hasil yang kontinyu tanpa tergantung musim.

Selain itu, metode ini juga mampu meningkatkan kualitas buah sehingga memiliki daya saing yang tinggi di pasar lokal maupun nasional.

Pengabdian ini dimulai dengan melakukan survei awal dan sosialisasi kepada kelompok tani untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada serta kebutuhan mitra dalam meningkatkan produktivitas jeruk siam.

Setelah survei, tim pengabdian mempersiapkan alat dan bahan seperti gunting pangkas, pestisida hayati, dan pupuk kandang, yang akan digunakan dalam pelatihan.

Selama pelatihan, tim pengabdian menyampaikan materi dan melakukan praktik langsung bersama para petani dalam menerapkan metode Bujangseta.

Peserta diajak untuk memahami pentingnya manajemen pemangkasan agar tanaman memiliki struktur yang sehat dan dapat mengurangi kelembapan yang memicu hama penyakit.

Para petani juga dilatih dalam manajemen nutrisi tanaman melalui pemupukan organik dan anorganik untuk menjaga kesuburan tanah serta ketahanan tanaman terhadap serangan hama.

Tahapan terakhir dalam kegiatan ini adalah monitoring dan evaluasi. Tim pengabdian melakukan evaluasi terhadap pemahaman dan keterampilan yang telah diterapkan oleh para petani dalam implementasi Bujangseta.

Berdasarkan hasil evaluasi, petani yang telah mengikuti pelatihan berhasil menguasai metode tersebut dan mampu mengoptimalkan produksi jeruk siam mereka.

Pelatihan ini memberikan hasil yang positif, di mana kelompok tani Mudi Rezeki kini memiliki pengetahuan dan keterampilan baru dalam budidaya jeruk siam.

Mereka menjadi lebih percaya diri dalam menerapkan metode budidaya modern, yang tidak hanya meningkatkan kuantitas produksi, tetapi juga meningkatkan kualitas buah jeruk sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

 

Sementara itu, salah satu anggota tim, Fandyka Yufriza Ali, menambahkan, “Harapan kami, pelatihan ini dapat mendorong petani untuk menerapkan teknologi tepat guna yang mengoptimalkan hasil tanpa merusak lingkungan. Melalui pendekatan Bujangseta, kami ingin petani dapat terus panen sepanjang tahun, sehingga mereka dapat merasakan hasil yang berkesinambungan,” ungkapnya.

Dengan adanya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan kelompok tani, diharapkan program ini dapat menjadi model bagi daerah lain dalam memberdayakan petani melalui penerapan teknologi yang tepat guna. Ke depannya, diharapkan program ini dapat terus berjalan dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Pengembangan teknologi Bujangseta ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan teknologi yang tepat, jeruk siam dari Kabupaten Jember diharapkan dapat menjadi komoditas unggulan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

 

Editor : Halo Jember
#Polije #jember #Jeruk Siam