HALOJEMBER - Kecanggihan kecerdasan buatan telah membawa berbagai perubahan signifikan dalam berbagai sektor, termasuk dunia akademisi.
Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember Dr Kun Wazis menegaskan bahwa artificial intelligence (AI) bisa menjadi instrumen yang sangat membantu dalam penelitian dan pembelajaran.
Namun, tetap memerlukan pemeriksaan, konfirmasi, dan verifikasi dari pihak yang berkompeten.
Menurutnya, berbagai alat dan aplikasi berbasis AI kini banyak digunakan untuk membantu dalam penulisan akademik.
Selain itu, bisa dipakai dalam analisis data, hingga penyusunan materi ajar, terlebih dalam penelusuran data.Baca Juga: 5 Mitos Larangan Bagi Perempuan Jawa yang Dipercaya Turun Temurun, Ternyata Begini Maknanya
Dengan kemampuannya yang dapat mengolah informasi dalam jumlah besar dan waktu yang relatif singkat, AI menawarkan kemudahan yang signifikan bagi akademisi untuk memperoleh informasi yang relevan dengan topik yang sedang diteliti.
Namun, Kun Wazis juga mengingatkan, meskipun AI memiliki potensi besar, tapi hasil yang diberikan oleh teknologi ini tidak bisa diterima begitu saja tanpa adanya validasi lebih lanjut.
Ia menilai bahwa AI masih memiliki keterbatasan dalam menginterpretasikan konteks secara mendalam.
“Terutama dalam bidang-bidang yang memerlukan pemahaman kontekstual yang kompleks, seperti kajian sosial dan budaya,” katanya.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh dunia akademis dalam menghadapi kecerdasan buatan, menurutnya, adalah kemampuan untuk membedakan antara informasi yang valid dan tidak.
Walau AI dapat menyediakan sejumlah besar data, tapi tidak semua data tersebut selalu relevan atau benar.
“Selain itu, hasil dari AI juga rentan plagiarisme, sehingga sangat perlu untuk dilakukan pemeriksaan dan verifikasi melalui check Turnitin,” ungkap Kun Wazis yang merupakan Ketua Prodi KPI Pascasarjana UIN KHAS Jember.
Dosen yang juga aktif dalam penelitian di bidang komunikasi, media, dan teknologi ini menekankan pentingnya pemahaman kritis terhadap perkembangan teknologi.
Baginya, penggunaan AI dalam pendidikan harus diimbangi dengan kemampuan untuk mengevaluasi dan memverifikasi hasil yang diberikan.
“Agar AI tidak menjadi alat yang justru merusak kualitas akademik,” imbuhnya.
Meski AI sudah menjadi hal yang lumrah digunakan di dunia akademik, menurutnya, tetapi tidak boleh dijadikan pengganti peran manusia dalam memahami proses penelitian secara langsung di lapangan.
"Dunia akademisi adalah dunia yang mengedepankan akurasi, ketelitian, dan pemikiran kritis. AI adalah alat yang dapat membantu, namun keputusan akhir dan tanggung jawab tetap ada pada para akademisi," pungkasnya. (dhi/c2/dwi)
Editor : Halo Jember