HALOJEMBER - Ratusan siswa SMPN 1 Puger tampak serius mendengarkan materi kesiapsiagaan bencana, Selasa (4/2).
Mereka mendapatkan pengetahuan terkait bencana, dari perwakilan Japanese Red Cross Society (JRCS) atau Palang Merah Jepang. Selain siswa, puluhan warga Puger Kulon juga mendapatkan pemahaman serupa.
Tak cukup di tempat itu, JRCS juga mendatangi warga dan siswa di Desa Puger Wetan serta Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, kemarin (5/2).
Tujuannya sama, yakni meningkatkan kesiapsiagaan bencana tsunami berbasis masyarakat dan sekolah. Dengan tujuan akhir terbentuk masyarakat dan sekolah tangguh bencana.
Diketahui, JRCS dan Palang Merah Indonesia (PMI) menjalin kerja sama untuk mengantisipasi bencana tsunami serta megathrust.
Pantai selatan Jember terpilih sebagai salah satu pilot project kerja sama itu. Dengan berbagai pertimbangan, salah satunya potensi bencana serta kesiapan sumber daya manusia (SDM).
Koordinator Kegiatan Kesiapsiagaan PMI dan JRCS di Jember Weni Catur menyampaikan, untuk berdialog bersama warga dan siswa, para perwakilan JRCS dibantu oleh penerjemah yang disiapkan sebelumnya.
Sebelum memberikan materi, mereka menggali sejauh mana pengetahuan warga dan sekolah tentang bahaya bencana.
Selain berdialog bersama siswa, perwakilan JRCS juga mengamati secara langsung puluhan warga yang tengah mengikuti pelatihan siaga bencana.
Mereka sebelumnya mendapatkan berbagai materi, mulai dari pengenalan bencana hingga kajian risikonya.
Sementara itu, Kepala Desa Puger Kulon Nurhasan mengatakan, Jepang merupakan negara yang tak jarang mengalami bencana tsunami dan gempa bumi. Sehingga mereka diyakini memiliki pengalaman lebih untuk menanganinya.
Tidak heran jika warganya dinilai antusias untuk mengikuti pelatihan. "Mereka (JRCS, Red) kenyang pengalaman dan pelajaran dari bencana itu. Saya yakin punya pengetahuan jitu untuk diberikan kepada warga kami,” imbuhnya.
Dia juga berharap program sekolah dan masyarakat tangguh bencana bisa segera terwujud. Supaya manfaatnya bisa benar-benar dirasakan. Salah satunya menerapkan pengetahuan bencana dalam kehidupan sehari-hari.
“Minimal kalau ada bencana, kami tidak bingung apa yang harus dilakukan,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)
Editor : Halo Jember