Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

INI Penjelasan IKAN MABUK dari Pakar Biologi, Apa Benar Mabuknya Karena Alkohol Seperti Manusia?

Dwi Siswanto • Selasa, 29 April 2025 | 23:57 WIB
Warga menangkap ikan mabuk (Jawapos.com)
Warga menangkap ikan mabuk (Jawapos.com)

HALO JEMBER, jawapos.com - Fenomena unik sekaligus memprihatinkan kini menjadi perhatian di sejumlah daerah di Indonesia: ikan-ikan yang tampak "mabuk" di sungai, danau, hingga kolam.

Berenang tak tentu arah, terhuyung-huyung, bahkan mengapung ke permukaan tanpa mati, adalah gejala yang banyak dilaporkan oleh warga setempat.

Peristiwa ini memicu keprihatinan para ahli lingkungan karena dinilai sebagai indikator serius adanya kerusakan ekosistem air.

Fenomena yang dikenal dengan istilah "ikan mabuk" ini sesungguhnya bukan kejadian baru. Secara ilmiah, kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan kimiawi dalam air, pencemaran limbah, hingga proses alami tertentu.

Namun, dalam beberapa kasus belakangan ini, pencemaran akibat aktivitas manusia diduga menjadi penyebab utama.

Menurut Dr. Ratna Widjaya, pakar biologi kelautan dari Universitas Indonesia, "ikan mabuk" biasanya terjadi akibat terganggunya keseimbangan biokimia di tubuh ikan.

Salah satu penyebab utamanya adalah kadar oksigen terlarut yang menurun drastis akibat pencemaran. Limbah cair dari pabrik tekstil, pertanian, maupun rumah tangga yang kaya akan bahan kimia seperti amonia, nitrit, dan alkohol dapat memicu fenomena ini.

Dalam kondisi tertentu, bahan organik yang membusuk dalam jumlah besar di perairan juga dapat menghasilkan etanol secara alami melalui fermentasi.

Ketika ikan tanpa sadar mengonsumsi air yang tercemar etanol atau bahan beralkohol lainnya, efeknya mirip dengan manusia yang mengonsumsi alkohol: gerakan menjadi tidak terkendali, keseimbangan tubuh terganggu, hingga penurunan respon terhadap rangsangan.

"Ikan memiliki sistem saraf pusat yang sensitif terhadap perubahan zat kimia di lingkungannya. Ketika terjadi paparan racun atau zat yang bersifat depresan, mereka akan menunjukkan perilaku aneh," tambah Dr. Ratna.

Di awal April 2025, media sosial ramai memperbincangkan video ikan-ikan di Sungai Citarum, Jawa Barat, yang tampak berputar-putar tak karuan di permukaan air. T

ak lama kemudian, laporan serupa muncul dari Sungai Musi di Palembang, di mana para nelayan mengeluhkan hasil tangkapan ikan yang berkurang drastis, dengan sebagian ikan menunjukkan gejala "mabuk".

Tim gabungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) langsung turun tangan. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tingginya kadar limbah organik dan senyawa kimia yang berpotensi beracun dalam air.

Penyelidikan masih berlanjut untuk menelusuri sumber limbah tersebut, namun beberapa dugaan mengarah pada aktivitas pembuangan limbah industri yang tidak melalui pengolahan memadai.

"Kami menduga kuat ada keterlibatan aktivitas industri yang tidak bertanggung jawab dalam kasus ini," ujar Joko Pranoto, juru bicara KLHK, dalam konferensi pers. "Jika terbukti, kami akan mengambil tindakan hukum tegas.

"Fenomena ikan mabuk tidak hanya berdampak pada populasi ikan, tapi juga mengancam keseimbangan ekosistem dan kesehatan manusia. Ikan yang terpapar bahan kimia berbahaya bisa membawa racun ke dalam rantai makanan.

Konsumsi ikan dari perairan tercemar berisiko menyebabkan keracunan pada manusia, termasuk gangguan sistem saraf, hati, bahkan risiko kanker.

Selain itu, fenomena ini juga berdampak pada mata pencaharian nelayan lokal dan ketersediaan pangan.

Nelayan di Sungai Musi melaporkan penurunan pendapatan lebih dari 40% dalam dua minggu terakhir akibat ikan yang sulit ditangkap dan berkurangnya permintaan pasar karena kekhawatiran konsumen.

"Biasanya kami bisa membawa pulang 10–15 kilogram ikan per hari, sekarang cuma dapat 3 kilogram, itu pun banyak yang cacat," kata Arman, seorang nelayan dari Palembang.

KLHK mengumumkan beberapa langkah darurat, seperti pengawasan ketat terhadap pembuangan limbah industri, edukasi masyarakat tentang bahaya membuang sampah ke sungai, dan program restorasi kualitas air.

Selain itu, pemerintah daerah di beberapa wilayah berencana menerapkan teknologi biofiltrasi alami menggunakan tanaman air seperti eceng gondok dan kangkung untuk membantu menyaring racun dari perairan.

Masyarakat pun diimbau untuk melaporkan segala aktivitas mencurigakan yang berpotensi mencemari air, serta ikut berpartisipasi dalam program pembersihan sungai yang akan rutin digelar.

"Ini menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kualitas air adalah tanggung jawab bersama," ujar Dr. Ratna.

 

MG25OKKYFILZAHAMALINA

Editor : Dwi Siswanto
#ikan mabuk #biologi #berenang