HALO JEMBER - Acara keagamaan di Indonesia memiliki bentuk dan gaya yang beragam, mencerminkan kekayaan tradisi serta kebutuhan spiritual umat.
Salah satu bentuk kegiatan yang masih bertahan sejak zaman dahulu adalah haul, yaitu peringatan wafatnya tokoh agama yang dipandang wali atau ulama besar.
Haul biasanya dilakukan secara rutin setiap tahun dan dihadiri ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah.
Acara haul memiliki suasana yang lebih khusyuk, tertib, dan penuh penghormatan terhadap sosok yang dikenang.
Di haul, kegiatan utamanya adalah tahlilan, doa bersama, serta mendengarkan ceramah dari kiai sepuh yang disegani.
Para jamaah umumnya duduk bersila dalam suasana teduh, mengenakan pakaian sopan, dan menjaga adab selama acara berlangsung.
Bandingkan ini dengan acara ceramah bergaya populer yang sering viral di media sosial dan diisi oleh tokoh muda yang dikenal sebagai “gus-gusan”.
Sebutan “ gus -gusan” merujuk pada tokoh agama muda, seringkali putra kiai, yang tampil dengan gaya santai, jenaka, bahkan kadang kontroversial.
Ceramah ala gus-gusan biasanya ditujukan untuk menarik generasi muda dengan bahasa gaul, humor, dan kadang sindiran sosial yang tajam.
Tidak sedikit ceramah bergaya ini yang akhirnya viral karena celetukan yang dianggap lucu, atau justru menyinggung sebagian pihak.
Bahkan beberapa tokoh “gus” sempat disorot karena gaya bicaranya dianggap kurang pantas, misalnya menyindir sesama ulama atau menggunakan kata-kata kasar.
Baca Juga: Merasa Gelisah? Ini Tanda Lain Bahwa Kita Disukai Jin
Lantas, apakah ini hal yang buruk?
Tidak sepenuhnya.
Ceramah gaya populer memiliki keunggulan dalam menjangkau segmen muda dan media digital, memperluas dakwah ke ruang yang selama ini jarang tersentuh.
Namun, perbedaannya dengan haul adalah soal suasana dan orientasi.
Haul lebih berakar pada tradisi lokal, sedangkan ceramah populer sering bersifat spontan dan responsif.
Bukan berarti haul lebih baik, atau sebaliknya. Baca Juga: Haul Akbar Gus Miek Ke-33 Akan Diadakan 26 Juni 2025, Simak Rincian Berikut!
Keduanya punya tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat muslim Indonesia yang majemuk.
Yang menjadi persoalan adalah ketika nilai-nilai adab, ilmu, dan keteladanan terpinggirkan demi viralitas dan popularitas.
Sementara haul tetap fokus pada penghormatan dan peninggalan spiritual, sebagian ceramah kontemporer malah berubah menjadi tontonan semata.
Kondisi ini sempat dikhawatirkan oleh beberapa ulama, seperti KH Mustofa Bisri (Gus Mus), yang mengingatkan bahwa dakwah seharusnya mendekatkan orang pada akhlak, bukan pada konflik.
Dalam banyak haul, suasana kebersamaan dan cinta pada ulama diwariskan secara turun temurun, sehingga mengakar kuat di tengah masyarakat.
Sementara itu, tren ceramah viral masih bisa populer hari ini, lalu dilupakan esok hari.
Jika dicermati, keduanya sebenarnya bisa saling melengkapi.
Haul menjaga akar tradisi, sedangkan ceramah populer bisa menjangkau cabang-cabang baru dalam masyarakat digital.
Kuncinya adalah menjaga nilai dakwah, bukan memecah belah. Baca Juga: Jaga Marwah Haji, Hentikan Viral yang Tak Mendidik, Opini oleh Abdul Wasik
Penulis: MG25 Ailatul Miza Zulfa
Editor : Dwi Siswanto