HALO JEMBER – Peningkatan literasi tidak boleh berhenti di ruang diskusi hingga sosialisasi saja. Tapi butuh aksi nyata, seperti membuat pojok literasi hingga membudayakan saling berbagi buku.
Kegiatan inilah yang terus digalakkan para pecinta literasi, termasuk di Museum Telu.
Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Jember (Unej) Moh Hasan mengatakan, literasi di Indonesia, khususnya literasi membaca, relatif rendah dibandingkan negara lain. Data menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, yaitu hanya 0,001%.
Oleh karena itu dalam meningkatkan literasi membaca masyarakat Indonesia, tidak hanya diserahkan satu pihak seperti sekolah ataupun tenaga pendidik.
Semua unsur harus mendukungnya, termasuk di lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Bahkan, bila perlu juga perlu ada pemantik, agar masyarakat kembali membuka buku dan membaca.
“Dalam meningkatkan literasi ini semua harus bergerak dan peduli bahwa literasi ini penting,” terangnya.
Menurutnya, banyak cara untuk memantik minat baca. Bisa lewat diskusi hingga membagikan buku ataupun share tentang pengalaman membaca buku.
Sementara, Kepala Museum Telu, Priwahyu Hartanti, keberadaan museum tentu memiliki tujuan untuk pendidikan masyarakat.
“Semua museum pasti ada pojok perpustakaannya. Museum Telu juga begitu ada perpustakaannya,” paparnya.
Baca Juga: Museum Bung Karno di Blitar: Destinasi Utama untuk Menjelajahi Sejarah Kemerdekaan Indonesia
Buku di Museum Telu juga ada sebagian sumbangan dari masyarakat. Pihaknya juga menyediakan pojok membaca dan ruang diskusi di lantai 2.
Sementara, Edy Setyono mantan Kepala SMKN 2 Jember yang menyumbangkan buku ke Museum Telu ini berharap besar agar bisa berkontribusi ke dunia literasi.
Menurutnya, untuk meningkatkan literasi perlu bergandengan tangan.
“Pensiunan tenaga pendidik seperti saya juga harus semangat bagaimana budaya membaca buku ini terus ada ke generasi berikutnya,” paparnya. (dwi) Baca Juga: Menelisik Detail Suzuki Fronx : Dimensi, Roda, dan Suspensi, Kaki-kaki Tangguh, Siap Taklukkan Jalanan Perkotaan?
Editor : Dwi Siswanto