Penelitian Juster, jurnal sains terapan (Desember 2024) tentang inventarisasi tonggeret di lingkungan pesantren Bandung menemukan dua spesies dominan.
Yaitu Dundubia vaginata dan Cryptotympana acuta yang suaranya dapat dikelompokkan berdasar habitat dan karakteristik lingkungan.
Profesor hama UGM menjelaskan bahwa tonggeret memiliki siklus hidup panjang yaitu fase larva bawah tanah selama bertahun-tahun.
Sebelum muncul menjadi nimfa dan dewasa hanya dalam hitungan minggu, menjadikannya metafora biologis yang efektif dalam pengajaran sains.
Melalui praktik Visual Encounter Surveys di pesantren, siswa bisa dilatih mencatat jumlah individu, mendengarkan suaranya, dan memahami hubungan antara aktivitas serangga dengan kondisi lingkungan lokal.
Baca Juga: Fakat Unik Semut, Serangga Kecil Suka Gotong Royong dan Kuat
Tonggeret juga digunakan sebagai indikator ekologis dimana petani tradisional memanfaatkan intensitas suara tonggeret sebagai tanda datangnya kemarau, strategi kuno yang juga mengandung nilai praktis dalam pendidikan geografi dan sains.
Melalui konten edukatif, seperti video TikTok “ Suara Tonggeret – Hutan Symphony Exploration” .
Tonggeret dijelaskan sebagai bagian dari ekosistem hutan dan kebun lokal, memperkuat literasi digital dan sains di kalangan generasi muda.
Tonggeret kini populer jadi materi edukasi di beberapa sekolah hutan dan laboratorium mini alam terbuka.
Bukan hanya di pesisir Jember, tapi juga di Jawa Tengah & Jawa Barat sebagai model pembelajaran kontekstual.
Guru Biologi SD dan SMP bisa mengadaptasi metode ini: mengajak siswa mencatat frekuensi suara.
Selain itu merangkai grafik aktivasi harian, serta membuat laporan sederhana keterampilan sains terapan yang sangat berguna di era kurikulum merdeka belajar.
Tonggeret sebagai objek studi memberi pelajaran multiple: dari biologi, ekologi, etno-ekologi, hingga apresiasi alam serta budaya local, semua diramu menjadi pengalaman belajar yang hidup, menyentuh, dan bisa dinikmati semua kalangan.
Editor : Dwi Siswanto