HALO JEMBER — Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya pada Rabu malam (2/7) kembali membuka luka lama dan menegaskan satu hal: Selat Bali bukanlah jalur laut biasa.
Selat ini telah lama dikenal sebagai salah satu jalur penyeberangan paling berbahaya di Indonesia, dengan riwayat panjang kecelakaan kapal yang menelan banyak korban jiwa.
Rekam Jejak Kecelakaan Maut
Dalam 40 tahun terakhir, lebih dari enam insiden besar terjadi di Selat Bali, termasuk:
PLM Labalikan (1985): 12 korban hilang diterjang badai.
KMP Rafelia II (2016): 6 orang tewas akibat kapal kelebihan muatan.
KMP Yunicee (2021): tenggelam hanya beberapa meter dari pelabuhan Gilimanuk.
Kecelakaan-kecelakaan tersebut bukan semata akibat cuaca buruk, tapi juga karena kombinasi kelemahan infrastruktur, kesalahan manusia, dan kurangnya pengawasan.
Kenapa Selat Bali Begitu Berbahaya?
Menurut pakar kelautan dari Universitas Udayana, Dr. I Gede Mahayana:
“Selat Bali memiliki karakteristik arus bawah laut yang kuat, perbedaan pasang-surut yang ekstrem, dan gelombang tinggi yang dipengaruhi oleh Samudra Hindia.”