Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Cerita Ahmad Romli yang Pilih Jadi Bos Keripik Pisang di Usia Muda, Berdayakan 20 Warga Lumajang

Sidkin • Senin, 7 Juli 2025 | 02:55 WIB

 

Anak muda yang dilibatkan dalam proses pembuatan kripik pisang. Ahmad Romli memilih menjadi bos muda dan mempekerjakan puluhan orang dalam bisnis ini.
Anak muda yang dilibatkan dalam proses pembuatan kripik pisang. Ahmad Romli memilih menjadi bos muda dan mempekerjakan puluhan orang dalam bisnis ini.

HALO JEMBER - Tidak ada yang bisa menentukan jalan hidup seseorang selain dirinya sendiri. Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Ahmad Romli (26). Pemuda asal Desa Sukorejo, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang itu sukses dengan bisnis keripik pisang.

ADE APRIANIS, Lumajang

Di saat banyak orang seusianya masih bingung mencari arah, Romli sudah mantap melangkah menjadi pengusaha keripik pisang dengan omzet harian mencapai Rp 10 juta.

Keputusan besar itu ia ambil bukan semata demi keuntungan pribadi.

Ada misi sosial yang turut membakar semangatnya. Yaitu memberdayakan muda-mudi di lingkungan rumahnya dan banyaknya sumber buah pisang di daerahnya.

“Lumajang jadi kota pisang itu memang benar. Karena banyak pohon pisang di Lumajang, pekarang kecil juga selalu ada pohon pisang,” paparnya.

Ia melihat banyak teman sebayanya yang masih menganggur atau bekerja serabutan. Alih-alih merantau, ia memilih membangun usaha dari rumah sendiri.

“Saya mulai dari nol. Modal nekat dan terus belajar. Alhamdulillah, sekarang tiap hari bisa produksi terus,” kata Romli saat ditemui di rumah produksinya.

Bisnis keripik pisang Romli bukan bisnis keripik biasa. Ia mengemas produknya dengan varian rasa kekinian.

Varian itu seperti cokelat, keju, matcha, dan pedas manis, membuat anak muda dan keluarga muda langsung jatuh hati.

Pesanan datang dari berbagai daerah, mulai dari Lumajang, Jember, hingga Surabaya, dan luar provinsi.

Baca Juga: Resep Buko Pandan dan Pisang Goreng Cokelat Enak untuk Menu Takjil Buka Puasa

Dalam sehari, ia bisa memproduksi minimal 200 paket, bahkan tembus hingga 1000 paket di hari-hari sibuk. Setiap hari, sekitar 2 kuintal pisang untuk digoreng, dibumbui, dan dikemas.

Kini, Romli tidak sendiri. Ia mempekerjakan sekitar 20 orang, sebagian besar pemuda sekitar yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan tetap.

“Mayoritas pekerja masih muda, tapi ada juga emak-emak yang bantu di bagian penggorengan. Jadi bisa saling bantu juga antar warga,” ujarnya.

Meski bisnisnya terus tumbuh, Romli mengakui bahwa tidak semua proses produksi berjalan mulus.

Salah satu kendala terbesar adalah ketersediaan bahan baku, terutama pisang dan cokelat blok.

 

Biasanya ia mendapatkan pasokan pisang dari wilayah Senduro. Namun saat stok habis, ia harus mencari ke tempat yang lebih jauh, seperti Ranuyoso.

Kisah Ahmad Romli menjadi bukti bahwa dengan semangat, ketekunan, dan niat baik, anak muda bisa mandiri secara ekonomi sekaligus memberi dampak sosial.

Di usia 26 tahun, ia sudah menjadi ‘bos’ bagi banyak orang di sekitarnya. Bukan hanya memberi pekerjaan, tapi juga membuka wawasan dan harapan.

Kini, Romli tak sekadar menjual keripik pisang. Ia sedang menyusun rencana ekspansi menambah varian produk dan menjangkau pasar lebih luas.

 

Harapannya, semakin banyak anak muda yang terinspirasi untuk berani memulai usaha dan menciptakan lapangan kerja. “Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?” tutupnya singkat. (dea/dwi)

Editor : Sidkin
#cerita inspiratif #keripik pisang #pengusaha muda