Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Kisah Rohmah Hidayah, Mahasiswa Pascasarjana ITS Surabaya yang Raih Beasiswa di Kumamoto University Jepang

Sidkin • Rabu, 9 Juli 2025 | 01:37 WIB
Rohmah Hidayah bersama Profesor dari Kumamoto University. Dia adalah mahasiswa Pascasarjana Teknik Elektro ITS yang meraih Beasiswa di Kumamoto University.
Rohmah Hidayah bersama Profesor dari Kumamoto University. Dia adalah mahasiswa Pascasarjana Teknik Elektro ITS yang meraih Beasiswa di Kumamoto University.

HALO JEMBER - Kisah Rohmah Hidayah, mahasiswa Pascasarjana Teknik Elektro ITS yang meraih Beasiswa di Kumamoto University.

Rohmah Hidayah, mahasiswa Pascasarjana Teknik Elektro ITS berhasil meraih kesempatan emas untuk memperluas wawasan risetnya melalui program internship hybrid di Kumamoto University, Jepang.

Gadis yang akrab disapa Ema ini kini tengah menempuh semester tiga di bidang Jaringan Cerdas Multimedia.

Dia mendapatkan dukungan pendanaan dari International Research Organization for Advanced Science and Technology (IROAST).

Program internship ini ditujukan bagi mahasiswa Pascasarjana yang berencana melanjutkan studi ke jenjang Doktor, maupun mahasiswa Doktor yang ingin menempuh postdoctoral, membuka pintu bagi para peneliti muda untuk merasakan atmosfer riset internasional.

Melalui program ini, peserta diberi peluang untuk melakukan penelitian di bawah bimbingan profesor Kumamoto University.

Bimbingan itu baik secara daring selama 4 bulan maupun luring selama maksimal 2 bulan, tergantung kebijakan masing-masing profesor.

Mahasiswa bisa memilih profesor sesuai dengan bidang riset yang digeluti.

Akan tetapi itu harus melalui proses seleksi ketat hingga akhirnya mendapat persetujuan pendanaan dari IROAST.

Dilansir dari Halojember dari kanal resmi ITS, Ema pun membagikan proses perjuangannya dalam mengikuti program ini.

“Tahap pertama harus sudah memiliki research plan. Jika sudah, kita bisa memilih profesor yang sesuai dengan bidang penelitian,” ujarnya.

Setelah menyusun rencana riset, Ema melanjutkan proses dengan meminta persetujuan dari dosen pembimbing di ITS dan menyiapkan dokumen penting seperti CV, research plan, motivation letter, serta reference letter.

Semua dokumen tersebut dikirimkan langsung ke profesor pilihan yang sejalan dengan topik penelitiannya.

Awalnya, Ema hanya mengirimkan aplikasinya ke satu profesor, namun respons tak kunjung datang.

“Setelah menunggu sekitar satu minggu, saya mencoba mengirimkan ke beberapa profesor lain yang bidangnya masih linear dengan penelitian saya,” jelasnya.

Tidak lama setelah mencoba ke beberapa profesor lainnya, akhirnya profesor pertama yang ia hubungi merespons dan mengundangnya untuk sesi wawancara.

Wawancara bersama profesor menjadi tahap penentu sebelum mahasiswa dinyatakan diterima dalam program ini.

Setelah lolos wawancara, masih ada tahapan penantian terhadap keputusan akhir mengenai pendanaan dari IROAST.

“Prosesnya memang agak lama, tetapi akhirnya saya mendapatkan pendanaan dan beberapa fasilitas yang dicantumkan dalam kontrak,” tambahnya.

Ema dijadwalkan memulai penelitiannya secara langsung di Jepang mulai 5 Januari mendatang.

Di Kumamoto University, Ema akan fokus meneliti pemrosesan sinyal untuk deteksi sel kanker menggunakan pendekatan Deep Learning, sebuah topik yang sangat relevan dengan bidang keilmuannya di Teknik Elektro.

“Saya bertugas mencari metode Deep Learning yang paling cocok untuk mendeteksi sel kanker serta mempelajari teknik pengambilan sampelnya di laboratorium Kumamoto University,” ungkapnya.

Hasil penelitiannya akan diarahkan oleh profesor pembimbing dengan kemungkinan output berupa publikasi ilmiah, presentasi konferensi, hingga pencatatan log penelitian harian.

Untuk mahasiswa lain yang ingin mengikuti jejaknya, Ema membagikan beberapa strategi penting yang ia terapkan selama proses seleksi.

Ia menekankan pentingnya memilih bidang yang tepat dan fleksibel agar sesuai dengan fokus profesor yang dituju.

“Jangan menyerah jika ditolak oleh satu profesor. Cobalah mencari profesor lain, karena jumlah profesor yang tersedia sangat banyak,” pesannya dengan semangat.

Perjalanan Ema menjadi bukti bahwa dengan ketekunan, kesiapan, dan keberanian untuk mencoba, pintu menuju dunia riset internasional bisa terbuka lebar bagi mahasiswa Indonesia.*

Editor : Sidkin
#kisah inspiratif #its surabaya #jepang #Kumamoto University #Beasiswa Pascasarjana