Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Selat Bali: Bukan Sekadar Mitos – Arus Bawah yang Sangat Berbahaya dan Fakta Banyak Kapal Tenggelam di selat penghubung Pulau Jawa dengan Pulau Bali

Dwi Siswanto • Rabu, 9 Juli 2025 | 02:29 WIB

Kapal pesiar yang singgah di sekitar Selat Bali (jawapos.com)
Kapal pesiar yang singgah di sekitar Selat Bali (jawapos.com)

HALO JEMBER - Selat Bali selama ini lebih dikenal masyarakat luas sebagai jalur penyeberangan antara Pulau Jawa dan Bali.

Namun di balik permukaan laut yang tampak tenang, tersimpan fakta ilmiah dan sejarah nyata tentang arus bawah laut yang kuat, kedalaman ekstrem di beberapa titik, hingga kejadian kapal yang hanyut atau hilang kendali.

Selat ini bukan sekadar cerita mistis atau legenda pelaut, tapi merupakan wilayah laut dengan tantangan navigasi yang nyata dan kompleks.

Baca Juga: Perbedaan Selat Bali dan Selat Lombok: Mengapa Kapal Tidak Lurus Lewat Selat Bali?


1. Kedalaman Selat Bali: Lebih dari Sekadar Selat Sempit

Meskipun secara umum Selat Bali terlihat sempit (± 2,4 – 3 km), di beberapa titik, kedalamannya mencapai lebih dari 100 meter, khususnya di bagian tengah dan mendekati Samudera Hindia.

Struktur dasar lautnya bervariasi dan tidak rata, dengan kontur curam yang menciptakan kondisi perairan yang dinamis dan rawan arus deras di bawah permukaan.

Fakta: Menurut data batimetri (pemetaan dasar laut), beberapa bagian Selat Bali memiliki kedalaman mencapai 120–130 meter, terutama di jalur laut terbuka sebelum memasuki pelabuhan Ketapang atau Gilimanuk.


2. Arus Bawah Laut Selat Bali: Cepat, Tak Terduga, dan Memutar

Salah satu tantangan paling berbahaya di Selat Bali adalah arus bawah lautnya yang kuat dan tak kasat mata. Beberapa karakteristiknya: Baca Juga: Pusaran Aneh di Selat Bali Picu Kekhawatiran: Sejumlah Kapal Terpaksa Memutar Jalur, Tak Sedikit Kapal Tenggelam Selat Bali

Arus ini juga sering muncul tiba-tiba (fenomena internal wave atau gelombang bawah laut) yang sangat sulit dideteksi secara kasat mata oleh nelayan atau kapal penumpang biasa.


3. Kejadian Nyata: Kapal Hanyut di Selat Bali

Beberapa kasus kapal hanyut atau hilang kendali di Selat Bali bukanlah mitos. Berikut beberapa kejadian yang pernah tercatat:

✅ Kecelakaan Feri KMP Rafelia II (2016)

Pada 4 Maret 2016, kapal feri Rafelia II tenggelam di dekat Pelabuhan Gilimanuk. Walaupun tidak secara langsung disebabkan arus bawah, namun arus dan gelombang menjadi faktor yang mempercepat proses tenggelamnya kapal.

Sebagian besar penumpang berhasil diselamatkan, tapi kejadian ini menjadi pengingat akan kerasnya perairan Selat Bali.

✅ Perahu Nelayan Hanyut & Hilang

Beberapa nelayan di kawasan Banyuwangi dan Bali juga melaporkan perahu mereka tiba-tiba terseret jauh ke tengah laut akibat arus bawah yang tak terduga.

Bahkan ada yang harus diselamatkan oleh Basarnas setelah menghilang lebih dari 12 jam.

✅ Kapal Logistik Terpental Jalur Saat Arus Kuat

Beberapa truk logistik yang hendak diseberangkan pernah dilaporkan terbawa arus dan keluar jalur penyeberangan, terutama ketika terjadi pertemuan arus dari selatan (Samudera Hindia) dan utara (Laut Bali).

Baca Juga: Daftar Kapal Tenggelam di Selat Bali, dari Kapal PLM Labaikan pada 1985 sampai KMP Tunu Pratama Jaya tahun 2025


4. Selat Bali dan Mitos: Berakar dari Kenyataan

Cerita-cerita lokal tentang "kekuatan gaib" Selat Bali sebenarnya berakar dari kenyataan bahwa perairan ini memang berbahaya secara alamiah.

Dalam masyarakat pesisir, muncul mitos bahwa Selat Bali "menelan" kapal atau orang yang tidak sopan, padahal dalam banyak kasus, arus bawah dan gelombang mendadak lah penyebab utamanya.


5. Langkah-langkah Keamanan yang Perlu Diambil

Untuk menghindari kejadian hanyut atau kecelakaan laut di Selat Bali, beberapa langkah berikut penting dilakukan:

Editor : Dwi Siswanto
#kapal tenggelam #kapal #mitos #bali #selat bali