WEDUNG Pace erat kaitannya dengan dinamika sejarah Indonesia, terutama pada masa pergolakan tahun 1965.
Salah satu pelestari budaya pusaka Jember, Wuwul Suraeng Koko, mengatakan, berdasar cerita pendahulu, disebutkan Wedung Pace digunakan sebagai senjata tradisional pihak keamanan maupun masyarakat yang pro terhadap pemerintah.
“Saat itu terjadi pergolakan, ada intrik politik. Masyarakat Jember menggunakan Wedung Pace sebagai alat untuk mempertahankan wilayah dan melawan. Saat itu, Wedung Pace disebut-sebut kelewat gawat,” kata pria yang akrab disapa Lek Wuwul itu.
Meski hingga kini hal itu masih berdasar dari cerita ke cerita, tetapi, dia meyakini, Wedung Pace Jember memiliki hubungan kuat dengan Jember.
Apalagi secara historis, Wedung Pace bukan sekadar senjata, tapi simbol keberpihakan pada nilai-nilai perjuangan dan kedaulatan.
“Ini bukan hanya soal benda wedung, tapi soal spirit yang ada di Wedung Pace. Ini perlu dijaga dan dilestarikan bersama,” imbuhnya.
Sebagai upaya pelestarian, kini sudah banyak pencinta, kolektor, maupun pelestari benda pusaka yang menyimpan Wedung Pace.
Bukan hanya karena bentuknya yang estetis, tapi karena nilai historis dan spirit yang dikandungnya.
Bahkan beberapa kali, Pataji Nusa Barong juga kerap menggelar pameran.
Harapannya itu menjadi pengingat sekaligus pengunggah semangat agar benda pusaka Jember ini tetap lestari. (kin/dwi)
Editor : Dwi Siswanto