Kegiatan ini mendapat perhatian dari Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia yang turut hadir.
Kemensos mengapresiasi terhadap keberadaan SRT di bekas gedung balai diklat Dispendik Jember, di Kecamatan Patrang tersebut.
Sebagai program pendidikan alternatif, SRT dinilai mampu memberi kesempatan belajar yang lebih merata sekaligus membentuk karakter anak-anak sejak dini.
Sama seperti sekolah rakyat di daerah lain, seluruh siswa diwajibkan tinggal di asrama agar terbentuk kedisiplinan dan kemandirian selama menempuh pendidikan.
Direktur Rehabilitasi Sosial dan Penyandang Disabilitas Kemensos, M.O Royani, menjelaskan bahwa MPLS di SRT digelar selama dua pekan, lebih lama dibanding sekolah biasa.
“Tujuan utamanya sederhana, yaitu memastikan semua siswa betah tinggal dan beradaptasi di lingkungan sekolah,” katanya.
Royani menambahkan, sistem multi entry dan multi exit yang diterapkan memungkinkan anak dari berbagai latar belakang bisa menempuh pendidikan yang setara.
Ia juga menegaskan sejak awal Kemensos selalu mendampingi persiapan pembukaan SRT.
“Kami mendapat laporan dari tim yang sudah lebih dari dua minggu berada di sini. Dukungan dari pemerintah daerah, termasuk Dinas Sosial, sungguh luar biasa. Setiap komunikasi dan koordinasi selalu difasilitasi dengan baik,” ungkapnya.
Kemensos optimistis, keberadaan SRT di Jember akan berkembang pesat dan menjadi pilihan pendidikan yang diminati masyarakat.
“Untuk itu, mari kita upayakan bersama agar hal itu terwujud,” imbuhnya.
Editor : Sidkin