MUSIM kemarau identik dengan musim layangan. Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar hiburan, tapi juga ladang rezeki.
Di pinggir jalan hingga sudut desa, pedagang layangan dadakan bermunculan. Harganya pun terjangkau, mulai Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per biji.
Salah satunya adalah Abdul Aziz, warga Desa/Kecamatan Prajekan, Bondowoso.
Setiap musim layangan tiba, tangannya nyaris tak pernah berhenti merangkai kerangka bambu dan merentangkan kertas minyak warna-warni.
“Bisa puluhan hingga ratusan layangan sesuai pesanan,” ujarnya.
Prosesnya sederhana, tapi membutuhkan ketelatenan. Aziz hanya memerlukan bambu tipis yang sudah dipotong kecil-kecil, lalu diikat dengan benang untuk membentuk kerangka.
Setelah itu, kertas warna ditempel, dan jadilah layangan siap terbang.
“Yang pesan bukan cuma anak-anak. Remaja sampai orang dewasa juga banyak,” tambahnya.
Bagi Aziz, keterampilan ini tak pernah dipelajari secara khusus. Membuat layangan sudah seperti naluri.
“Bapak saya, kakek saya, buyut saya juga main layangan. Dari kecil saya terbiasa. Jadi terasa mengalir saja,” tuturnya.
Aziz bukan sekadar menjual mainan. Lewat layangan, ia meneruskan tradisi turun-temurun yang tak lekang oleh zaman.
Di tengah gempuran gawai dan permainan digital, suaranya lirih namun penuh keyakinan: “Selama angin kemarau masih berhembus, layangan akan tetap ada,” terangnya.
Fakta Layangan
Layangan masuk ke Indonesia diperkirakan dibawa pedagang Tiongkok abad ke-6–7 M. Awalnya dimainkan bangsawan, lalu menyebar jadi permainan rakyat.
Ragam Nama Layangan Nusantara
- Muna, Sulawesi Tenggara : Kaghati Kolope diyakini layangan tradisional tertua di dunia dengan daun kolope (daun ubi hutan), buluh bambu, dan serat nanas hutan.
- Bali : Janggan (ekor panjang, simbol keseimbangan).
- Kalimantan Selatan : Wau Bulan (berbentuk bulan sabit)
- Jawa Tengah & Jawa Timur : Layangan Aduan.
- NTB : Bebean (berbentuk ikan, diperlombakan).
- Sumatra Barat : Pucuk (segitiga runcing).
- Madura: Sowangan (terdapat suara yang dihasilkan, diterbangkan dari sore sampai malam)
Editor : Dwi Siswanto