Halo Jember - Haul Solo selalu menjadi daya tarik spiritual bagi ribuan umat Islam mulai dari luar kota hingga mancanegara. Setiap tahun, lautan manusia hadir untuk haul yang berpusat di Masjid Ar - Riyadh, Pasar Kliwon.
Dan pada tahun 2025 ini, acara akan dilaksanakan mulai tanggal 9 hingga 10 Oktober. Haul ini merupakan momen sakral untuk mengenang sosok agung: Habib Ali Muhammad Al Habsyi.
Namun, siapa sebenarnya sosok ulama yang wafat lebih dari satu abad ini sehingga namanya begitu di agungkan di Indonesia?
Riwayat Hidup dan Pendidikan
Habib Ali bin Muhammad Al-Habshy lahir di kota Qasam, Hadramaut, Yaman, pada Jumat 24 Syawal 1259 H. Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. dikenal juga dengan nama Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi atau Al-Imam Al-Allamah Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi.
Lahir dari pasangan bernama Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri. Besar di lingkungan keluarga dengan dasar agama Islam yang kuat, Habib Ali Al-Habsyi mampu menghatamkan Al-Qur'an dan berhasil menghafal ilmu zahir dan batin pada usia nya yang masih remaja.
Dengan segala ilmu yang dimiliki, Habib Ali Al-Habsyi dipercaya oleh guru nya untuk berdakwah kepada masyarakat dan untuk mendidik dan mengajar para siswa untuk belajar agama islam secara umum.
Mempunyai banyak murid, Habib Ali Al-Habsyi akhirnya membangun masjid "Riyadh" di kota Seiwun untuk menampung murid-murid nya, masjid sekaligus dilengkapi dengan asrama menjadi tempat ia mengajar dan mendidik para santri nya.
Tidak hanya di kota kelahirannya, Habib Ali Al-Habsyi juga menyebarkan kemasyhuran dalam dakwah dan pengajaran Islam hingga ke berbagai belahan dunia, mulai dari Afrika, sebagian besar wilayah Asia, hingga sampai ke Indonesia.
Karya Monumental dan Karakter Mulia
Salah satu warisan terbesar Habib Ali adalah kitab simtudduror sebuah Kitab Maulid yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Dilansir dari laman Nu, kitab ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dibaca di banyak Majelis Taklim di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Yang paling terkenal adalah kitab maulid yang berjudul lengkap 'Simthudduror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar'.
Secara harfiah, judul ini berarti "Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat, dan Riwayat Hidupnya". Kitab kecil ini berisi kisah-kisah tentang Maulid Nabi Muhammad SAW dan sering dibaca pada berbagai acara, termasuk di Indonesia.
Habib Ali menulis kitab ini pada Kamis, 26 Safar 1327 H, dan menyelesaikannya pada 10 Rabiul Awal 1327 H. Selain itu, banyak ucapan, pesan, dan surat-surat beliau kepada para ulama, keluarga, dan murid-muridnya juga telah dibukukan, menjadi sumber ilmu dan hikmah yang tak terhingga.
Kitab ini berisi syair-syair indah yang mengisahkan perjalanan hidup dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Habib Ali menulisnya pada usia 68 tahun, dan karena karyanya ini, beliau mendapat julukan 'Sahibul Maulid Simthudduror.
Dua tahun sebelum wafat, Habib Ali kehilangan penglihatannya. Beliau meninggal dunia pada waktu zuhur, Ahad 20 Rabiul Akhir 1333 H, atau bertepatan dengan 7 Februari 1915 M, di kota Seiwun, Hadhramaut.
Jenazah beliau disalatkan di halaman Masjid Riyadh keesokan harinya, dengan anaknya, Habib Muhammad, sebagai imam. Setelah itu, jenazah beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Riyadh.
Penulis : Nafila Aprillia
Editor : Dwi Siswanto