Pubertas seringkali dianggap sebagai rollercoaster yang membuat perasaan jadi tak terduga. Emosi tiba-tiba melankolis hingga marah-marah tidak jelas.
Dokter spesialis anak Mesty Ariotedjo, menjelaskan masa pubertas membuat anak akan kebingungan arah jika tanpa peran orang tua.
“Disini peran orang tua sangat penting, jangan sampai anak dilepas begitu saja. Kadang ada orang tua yang merasa canggung membicarakan soal pubertas, padahal ini saatnya untuk memberikan pengetahuan yang penting kepada anak,” ucapnya.
Alumnus FK Universitas Indonesia (UI) ini menjelaskan, pada masa seperti ini peran orang tua paling dibutuhkan. Mereka dianggap yang paling mampu mendengarkan.
Namun, memberikan ruang lebih untuk anak berbicara tanpa menghakimi.
“Mengungkapkan pendapat anak akan membantu terciptanya rasa saling percaya,” tuturnya.
Pola keterbukaan komunikasi juga dapat mencegah anak mencari jawaban dari sumber yang keliru.
Dengan diskusi yang jujur dan hangat, orang tua bisa memberikan pemahaman yang tepat tentang nilai kehidupan, pergaulan, hingga risiko yang mungkin dihadapi anak di luar rumah.
Hal ini menjadikan orang tua sebagai rujukan utama, bukan sekadar pengawas.
“Anak yang terbiasa berbicara terbuka dengan orang tua akan lebih mudah mengelola perasaan, mengambil keputusan bijak, serta beradaptasi dengan tantangan masa remaja,” pungkasnya. (dea/dwi)
Editor : Dwi Siswanto