HALO JEMBER – Kasus bullying di sekolah masih menjadi masalah serius yang terus terjadi di berbagai daerah.
Perundungan tidak hanya melibatkan tindakan kekerasan fisik, tetapi juga bisa hadir dalam bentuk verbal, sosial, hingga digital.
Bullying bukan sekadar candaan atau kenakalan, tetapi tindakan yang bisa berdampak fatal.
Dampak psikologisnya, seperti trauma, kecemasan, dan depresi, bisa bertahan seumur hidup.
Bahkan, dalam beberapa kasus yang parah, bullying bisa mengancam nyawa, seperti yang telah terjadi di beberapa kasus tragis.
Angka Kasus Bullying di Indonesia
Dilansir dari Inilah.com, berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), tercatat 573 kasus kekerasan di sekolah sepanjang tahun 2024.
Angka ini meningkat lebih dari 100 persen dibandingkan kasus kekerasan di sekolah pada 2023.
JPPI juga mencatat bahwa korban kekerasan seksual terbanyak adalah perempuan (97%), sedangkan korban perundungan paling banyak adalah laki-laki (82%).
Kemudian disusul perundungan (31 persen), kerasan fisik (10 persen), kekerasan psikis (11 persen), dan kebijakan diskriminatif (6 persen).
Baca Juga: Merdeka Perundungan Anak , Opini : A. Manan, Guru SMKN 8 Jember
Jenis Bullying yang Umum Terjadi
Ada beberapa jenis bullying yang umum terjadi di sekolah, antara lain:
- Bullying Fisik: Melibatkan tindakan kekerasan fisik seperti memukul, menendang, menggigit, mencubit, atau mengunci korban di dalam ruangan, jenis ini mudah dikenali karena meninggalkan tanda fisik pada korban.
- Bullying Verbal: Tindakan menggunakan kata-kata kasar, berupa ejekan, hinaan, ancaman, atau menyebarkan gosip yang dapat merendahkan korban secara emosional.
- Cyberbullying: Bullying yang terjadi melalui media elektronik seperti media sosial, chatting, atau pesan singkat. Contohnya adalah komentar negatif. Penyebaran foto atau video yang memalukan, dan intimidasi online.
- Bullying Finansial: Pemaksaan korban untuk menyerahkan uang atau barang berharga dengan ancaman kekerasan.
Pentingnya Pencegahan dan Peran Berbagai Pihak
Pemahaman tentang bentuk-bentuk bullying penting agar semua pihak di sekolah dapat mengenali dan mengambil tindakan yang tepat.
Melakukan pencegahan harus menjadi prioritas utama sekolah, orang tua, dan siswa perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung. Hal ini bisa dilakukan melalui:
- Edukasi: Mengajarkan siswa tentang dampak buruk bullying dan cara bersikap empati.
- Kebijakan Sekolah yang Jelas: Menerapkan aturan tegas terhadap pelaku bullying dan menyediakan mekanisme pelaporan yang aman bagi korban.
- Peran Aktif Orang Tua: Memantau interkasi anak, mendengarkan keluh kesah mereka, dan bekerja sama dengan sekolah jika ada masalah.
Penulis: Nafila Aprillia
Editor : Sidkin