HALO JEMBER – Pada Senin (22/9) petang, langit di atas Kabupaten Garut, Jawa Barat, terlihat tidak biasa.
Gumpalan awan pekat berwarna gelap menjulang tinggi, disertai kilatan cahaya dan gelegar petir.
Penampakan awan yang terlihat seperti ledakan raksasa ini membuat sebagian warga panik.
Apalagi awan itu terlihat di sekitar kawasan Gunung Guntur dan Papandayan.
Sebagian warganet bahkan sempat mengaitkannya dengan pertanda erupsi.
Namun, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini adalah kejadian alamiah yang umum terjadi, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia.
Awan yang memicu kehebohan itu dikenal dengan nama awan Cumulonimbus.
Mengenal Lebih Dekat Awan Cumulonimbus
Dalam dunia meteorologi, tidak ada awan yang lebih kuat dan dramatis daripada awan Cumulonimbus.
Awan ini sering dijuluki “raja” atau “ibu” dari semua awan karena ukurannya yang masif dan kemampuannya untuk memicu cuaca ekstrem.
Awan ini termasuk dalam kelompok awan kumuliformis yang sangat besar dan tebal, seringkali mencapai ketinggian yang luar biasa.
Secara visual, awan Cumulonimbus memiliki penampilan seperti gunung bergerak di langit, dengan bentuk yang menjulang tinggi menyerupai menara atau jamur.
Biasanya, ia memiliki batas yang tegas dan terdefinisi dengan baik di bagian atasnya, sementara bagian bawahnya sering bergelombang atau berbentuk seperti payung terbalik.
Bagaimana Awan Cumulonimbus Terbentuk?
Pembentukan awan Cumulonimbus membentuhkan tiga bahan utama: uap air, udara panas yang tidak stabil, dan gaya dorong ke atas (updraft).
Prosesnya dimulai ketika udara panas dan lembap di permukaan naik dengan cepat.
Saat udara ini naik, ia bertemu dengan suhu yang lebih dingin di atmosfer dan uap air di dalamnya mulai mengembun, membentuk gumpalan awan Cumulus.
Jika kondisi atmosfer sangat tidak stabil, proses pengembunan ini berlangsung terus-menerus.
Udara panas dari bawah terus mendorong gumpalan awan ke atas, membuatnya tumbuh secara vertikal hingga mencapai ketinggian yang luar biasa, sering kali hingga 12 kilometer.
Pada titik ini, ia sudah berubah menjadi awan Cumulonimbus.
Bagian puncaknya bisa mencapai lapisan tropopause, di mana suhu sangat dingin.
Sehingga bagian atasnya melebar dan membentuk "anvil" atau landasan yang khas.
Bahaya dan Tanda-tanda Kehadirannya
Kehadiran awan Cumulonimbus adalah pertanda jelas akan datangnya cuaca ekstrem.
Awan ini tidak hanya mengandung air, tetapi juga butiran es dan muatan listrik yang sangat besar.
Tanda yang biasa ditimbulkan seperti petir dan kilatan cahaya, hujan lebat dan angin kencang, hingga hujan es.*
Penulis : Nafila Aprillia
Editor : Sidkin