Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Tari Kembhang Raddin: Kelincahan Sang Gadis Bondowoso Menyapa Dunia

Dwi Siswanto • Senin, 20 Oktober 2025 | 00:00 WIB

 

DISKOMINFO BONDOWOSO  PENUH MAKNA: Sejumlah penari memperagakan Tari Kembhang Raddin, karya tari kreasi hasil kolaborasi para guru seni budaya di Bondowoso.
DISKOMINFO BONDOWOSO PENUH MAKNA: Sejumlah penari memperagakan Tari Kembhang Raddin, karya tari kreasi hasil kolaborasi para guru seni budaya di Bondowoso.


Dari tangan-tangan para guru seni budaya lahirlah sebuah tarian baru yang merekah indah di bumi Bondowoso. Tari Kembhang Raddin bukan sekadar rangkaian gerak, tetapi simbol tumbuhnya generasi muda yang anggun, berbudaya, dan bangga terhadap daerahnya sendiri.

 

Langkah-langkah ringan berpadu dengan kibasan selendang berwarna cerah. Setiap gerak tangan, tatapan mata, hingga ayunan tubuh para penari SMP Negeri 1 Bondowoso menebar pesona remaja yang sedang mekar.

Itulah Tari Kembhang Raddin, karya baru dari para guru seni budaya di bawah naungan MGMP Seni Budaya SMP se-Kabupaten Bondowoso.

Tarian berdurasi sekitar lima menit lebih ini lahir dari niat tulus untuk menghadirkan kreasi khas Bondowoso.

“Kami ingin menambah warna di antara tari tradisi yang sudah ada, seperti Tandhek Bhinik, Topeng Kona, dan Remo Sutinah,” ujar Nuril Arifin, guru sekaligus pelatih tari SMPN 1 Bondowoso.

Tari ini dikomposisikan oleh Prasetyo tersebut memiliki musik dinamis dan irama lembut.

Gerakannya menggambarkan semangat serta kecantikan alami gadis Bondowoso yang lincah, anggun, dan penuh kehidupan.

Properti yang digunakan pun sarat makna. Para penari membawa nginangan, tempat menyimpan sirih dan kapur, sebagai simbol keperempuanan dan kelembutan.

Sedangkan bunga yang mereka bawa menandakan masa remaja yang sedang mekar dan berada pada tahap peralihan menuju kedewasaan.

Meski tergolong baru, tarian ini berpijak kuat pada akar tradisi lokal. Setiap gerak disusun dari stilisasi tari-tari khas Bondowoso.

Tak ada sejarah panjang atau ritual tertentu di baliknya, tetapi semangat daerah terasa di setiap lenggokan.

Tari ini juga fleksibel: bisa dibawakan perorangan, berpasangan, atau massal, sesuai kebutuhan acara.

“Kami ingin generasi muda mengenal budaya lokal dengan cara menyenangkan. Melalui tari, mereka belajar menghargai keanggunan tradisi,” imbuh Nuril.Baca Juga: Potensi Hilangnya Pertanggungjawaban Pidana atas Ambruknya Ponpes Al Khoziny Buduran Sidoarjo , OPINI: Ach. Fais

Gerakan Halus dan Energik

GERAK para penari begitu lembut namun bersemangat. Sesekali mereka mengangkat nginangan, simbol perempuan Madura dan Tapal Kuda.

Di tangan mereka, benda sederhana itu berubah menjadi lambang kehormatan dan kelembutan. “Cantik sekali. Gerakannya halus tapi energinya kuat, seperti gadis desa yang mulai dewasa,” bisik Alin Alena, salah satu penonton.

Tarian berdurasi lima menit ini diciptakan untuk penyambutan tamu dan acara kebudayaan. Namun bagi penonton, maknanya lebih dalam: mengingatkan bahwa keindahan budaya lokal tak pernah hilang, hanya menunggu disentuh ulang oleh generasi baru.

Di balik panggung, para guru anggota MGMP Seni Budaya SMP Bondowoso tersenyum puas. Mereka tak menyangka karya bersama itu mampu memukau banyak penonton.

Begitu musik berhenti, tepuk tangan bergemuruh. Beberapa penonton berdiri dan mengabadikan momen dengan ponsel mereka.

 

Tari Kembhang Raddin menutup malam dengan kesan mendalam, bahwa tarian bukan hanya indah. Tapi juga menjadi simbol Bondowoso yang terus tumbuh lewat generasi muda yang mencintai budayanya. (ham/dwi)

Editor : Dwi Siswanto
#tari #bondowoso