DI tengah gempuran makanan instan dan produk modern yang diklaim “tinggi vitamin”, para orang tua harus lebih jeli. Tidak semua yang tampak sehat di iklan benar-benar menyehatkan. Maka, para ibu harus pintar membaca dan mempelajari gizi anak usia dini hingga usia sekolah.
Direktur Rumah Sakit Cahya Medika (RSCM) Bondowoso, dr. Amanda Cahya Yanuartika menjelaskan, makanan ultra process food itu sangat tidak dianjurkan untuk anak.
“Banyak makanan instan yang diklaim bergizi tinggi, padahal tinggi garam, gula, dan bahan pengawet. Tubuh anak bukan mesin, tidak bisa ditipu oleh label,” ujarnya dengan nada tegas.
Amanda menilai, kebiasaan makan praktis di era modern membuat banyak orang tua tanpa sadar menurunkan kualitas gizi anak.
“Sekarang banyak yang bangga memberi sereal impor atau mi instan. Padahal gizinya rendah dan kandungan kimianya tinggi,” katanya.
Ia menegaskan, sumber gizi terbaik tetap datang dari makanan alami. Seperti sayur, buah, ikan, telur, dan daging segar.
“Makanan yang tumbuh di bumi, jauh lebih baik dari yang keluar dari pabrik. Vitamin alami diserap tubuh lebih sempurna dibandingkan produk olahan,” jelasnya.
Amanda mengajak para ibu untuk kembali ke dapur, menyiapkan homemade food yang lebih terjamin kebersihan dan gizinya.
“Tidak perlu mahal. Yang penting bahan segar dan diolah dengan cara sederhana. Anak akan lebih sehat, dan orang tua pun lebih tenang,” tuturnya.
Selain itu, ia mendorong orang tua memperluas wawasan tentang gizi anak melalui sumber terpercaya.
“Sekarang banyak konten edukatif di media sosial tentang pola makan sehat. Orang tua harus aktif mencari tahu, jangan hanya ikut-ikutan tren,” tambahnya.
Memang di era sekarang sangat sulit untuk menghindari makanan instan, namun jika dibiarkan masa depan anak bisa terancam.
“Anak tidak butuh makanan kekinian, mereka butuh nutrisi. Jadi, tugas kita sebagai orang tua adalah menjadi penjaga gizi keluarga yang cerdas, jujur, dan penuh cinta.” pungkasnya. (faq/dwi)
Editor : Dwi Siswanto