Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menantang Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa untuk mengembalikan dana transfer ke daerah (TKD) sebesar Rp2,4 triliun yang sebelumnya dipangkas pemerintah pusat.
Tantangan ini akan ia ajukan jika Pemerintah Provinsi Jawa Barat terbukti memiliki nilai belanja pembangunan terbaik di Indonesia pada akhir tahun nanti.
"Kalau nanti bulan Desember ternyata Provinsi Jawa Barat belanjanya baik, belanja pembangunannya paling tinggi di Indonesia, saya mau nagih sama Pak Menteri Keuangan TKD Jawa Barat kembalikan dong, yang 2,458," ujar pria yang sering kali di sapa KDM dikutip dari RCTI + (26/10).
Dia menjelaskan, kebijakan pemotongan TKD dilakukan lantaran Menkeu Purbaya mengkritisi rendahnya serapan anggaran oleh pemerintah daerah, meski dana yang diberikan cukup besar.
Namun, Dedi menegaskan bahwa Jawa Barat justru memiliki tingkat serapan tertinggi dibanding provinsi lain.
"Karena kami sudah belanja dengan baik maka pemerintah yang belanja dengan baik harus dikasih hadiah dengan dikembalikan haknya, yaitu Rp2,458 triliun (TKD yang dipotong) harus kembali lagi ke Kas Provinsi Jawa Barat," tegasnya.
Sebelumnya, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan alasan di balik pemotongan anggaran Transfer ke Daerah (TKD) yang sempat menuai protes dari sejumlah kepala daerah.
Menurutnya, langkah itu bukan untuk melemahkan ekonomi daerah, melainkan untuk mengoptimalkan efektivitas penggunaan anggaran.
"Ini pada asalnya begini, anggaran tahun depan kan dipotong. Tahun ini juga sempat dipotong juga kan. Jadi mereka protes sama dengan Anda.
Kenapa dipotong? Kami nggak bisa bergerak kira-kira gitu," ungkapannya.
Pihaknya menambahkan, pemotongan TKD dilakukan karena masih banyak kasus penyelewengan dan ketidakefektifan dalam penyerapan anggaran di berbagai daerah.
"Tapi alasan pemotongan itu utamanya dulu karena banyak penyelewengan ya. Artinya nggak semua uang yang dipakai, dipakai dengan betul.
Jadi itu yang membuat pusat agak, bukan saya ya, pemimpin-pemimpin itu agak gerah dengan itu. Ingin mengoptimalkan," ulasnya.
Pewarta: Febri Irawan
Editor : Dwi Siswanto