Halo Jember – Fenomena motor brebet massal setelah pengisian Pertalite yang terjadi di sejumlah daerah beberapa waktu terakhir menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan masyarakat.
Sebagian warga menduga, ada campuran baru dalam bahan bakar Pertalite, yang membuat mesin motor tiba-tiba tersendat, bahkan mati mendadak.
Isu paling santer di media sosial adalah dugaan campuran etanol (bioetanol) yang dianggap terlalu tinggi. Tapi benarkah etanol bisa menyebabkan mesin brebet?
pakar teknik mesin dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, etanol sebenarnya bukan bahan berbahaya bagi mesin bensin.
Sebaliknya, etanol bisa membantu pembakaran jadi lebih bersih jika kadarnya sesuai.
“Masalahnya bukan pada etanolnya, tapi pada kadar campuran dan kesiapan mesin motor di Indonesia. Kalau kadarnya terlalu tinggi, sistem karburator bisa korosi dan menyebabkan pembakaran tidak stabil,” jelasnya kepada wartawan.
Etanol bersifat higroskopis, artinya mudah menyerap air dari udara. Air inilah yang kemudian bisa bercampur dalam tangki bahan bakar dan mengubah komposisi bensin, membuat motor jadi brebet, kehilangan tenaga, bahkan mogok.
bahwa jenis motor sangat berpengaruh terhadap efek bahan bakar.
Motor keluaran terbaru dengan sistem injeksi biasanya lebih toleran terhadap bahan bakar campuran, karena sistem sensornya bisa menyesuaikan kadar udara dan bahan bakar secara otomatis.
Namun bagi motor karburator lawas, campuran etanol berlebih bisa jadi mimpi buruk. Motor lama belum dirancang untuk bahan bakar ber etanol.
Ujung busi cepat kotor, filter bahan bakar tersumbat, dan getaran mesin makin kasar,
Inilah yang menjelaskan mengapa fenomena motor brebet banyak dialami pengendara motor tahun lama, khususnya jenis bebek dan matic keluaran sebelum 2015.
Baca Juga: HOAX apa Fakta? Elon Musk, Ubah Tesla dari Mobil Listrik ke Mobil Bahan Bakar Air
Sejumlah pengamat otomotif menilai kemungkinan lain yang juga patut diperhatikan adalah ketidakseragaman kadar campuran di tiap depo BBM.
Proses distribusi dari tangki Pertamina ke SPBU yang tidak steril bisa membuat air hujan atau kondensasi masuk ke tangki penyimpanan, menurunkan kualitas bahan bakar.
Pihak Pertamina sendiri menyatakan tengah melakukan uji kualitas dan investigasi internal, serta berjanji akan mengumumkan hasil resmi setelah pemeriksaan selesai.
Para ahli menyarankan pengendara agar:
1. Menguras tangki jika motor terasa brebet setelah isi Pertalite.
2. Mengganti filter bahan bakar dan busi bila ada tanda-tanda mesin tersendat.
3. Sementara waktu, gunakan BBM dengan oktan lebih tinggi seperti Pertamax bila memungkinkan.
Baca Juga: Kisah Rohmah Hidayah, Mahasiswa Pascasarjana ITS Surabaya yang Raih Beasiswa di Kumamoto University JepangLangkah-langkah kecil ini bisa membantu mencegah kerusakan lebih lanjut sambil menunggu hasil resmi dari lembaga penguji bahan bakar nasional (Lemigas).
Fenomena motor brebet kali ini bukan sekadar soal bensin jelek, tapi persoalan teknis yang kompleks melibatkan bahan bakar, distribusi, dan kondisi mesin kendaraan masyarakat yang sangat beragam.
Jika benar ada perubahan komposisi bahan bakar, maka penyesuaian teknologi kendaraan pun jadi keharusan.
“Fenomena motor brebet ini jadi alarm bahwa transisi energi butuh kesiapan teknologi kendaraan, bukan sekadar perubahan bahan bakar Sekali lagi, rakyat kecil yang paling merasakan dampaknya, sementara penyebab pastinya masih menunggu kejelasan.”
Pewarta: Ferdi Harahap