Halo Jember–Beberapa pekan terakhir, warga di berbagai daerah di Jawa Timur dihebohkan oleh fenomena aneh: motor tiba-tiba brebet setelah isi bahan bakar Pertalite.
Mulanya hanya segelintir video keluhan warga yang beredar di media sosial, tapi dalam waktu singkat, jagat maya berubah gaduh.
Dari TikTok hingga Facebook, unggahan bertajuk “motor tiba-tiba mati setelah isi Pertalite” viral di mana-mana.
Warganet ramai-ramai mengeluh, sebagian bahkan menuduh ada “campuran aneh” dalam BBM yang mereka beli.
Dan seperti api yang tersulut angin, kepanikan pun merebak luas.
fenomena ini adalah contoh nyata dari efek psikologis kolektif di era digital.
“Ketika satu video viral menunjukkan kerusakan motor, orang lain dengan kasus serupa langsung mengaitkannya. Lama-lama terbentuk keyakinan massal — padahal belum tentu berasal dari penyebab yang sama,” jelasnya.
Ia menyebut fenomena ini sebagai bentuk digital panic contagion penularan kepanikan lewat media sosial, tanpa harus melihat kejadian nyata secara langsung.
Efeknya, kepercayaan publik terhadap SPBU, bahkan terhadap merek bahan bakar, bisa menurun drastis hanya dalam hitungan hari.
Di sejumlah SPBU di Tuban dan Bojonegoro, warga terlihat lebih memilih Pertamax, meski harganya jauh lebih mahal.
Sebagian lain memilih membeli BBM eceran karena takut “kena brebet lagi”.
Akibatnya, antrean panjang terjadi di SPBU Pertamax, sementara stok eceran di pinggir jalan sempat langka dan naik harga hingga 20 persen.
Situasi ini memperlihatkan betapa rentannya kepercayaan masyarakat terhadap institusi besar saat komunikasi publik tak dilakukan dengan cepat dan transparan.
Di sisi lain, sejumlah ahli otomotif telah menegaskan bahwa belum ada bukti pasti kalau Pertalite mengandung zat berbahaya.
Beberapa kasus brebet diduga akibat campuran air atau kebersihan tangki SPBU, yang bisa terjadi secara lokal dan tidak merata.
Namun, bagi masyarakat yang sudah terlanjur panik, penjelasan teknis terasa tak cukup.
Dalam benak mereka, suara mesin yang tersendat dan bau bensin yang berbeda sudah cukup jadi “bukti nyata”.
Kasus “motor brebet” ini menunjukkan bagaimana fenomena sosial modern masih memantulkan pola lama masyarakat Indonesia** — antara rasa was-was, sugesti kolektif, dan kecenderungan mencari pembenaran mistis.
Beberapa warga bahkan menilai “bensin zaman sekarang sudah tidak suci”, atau “mesinnya ditolak alam”, menunjukkan bagaimana narasi logis dan spiritual sering kali tumpang tindih di benak publik.
Hingga kini, pemerintah dan lembaga terkait masih melakukan uji laboratorium bahan bakar untuk memastikan penyebab pastinya.
Namun satu hal sudah jelas: di era media sosial, ketakutan bisa menyebar lebih cepat daripada kebenaran.
Dan fenomena motor brebet ini jadi bukti betapa kuatnya pengaruh narasi digital dalam membentuk persepsi masyarakat modern.
Pewarta: Ferdi Harahap