Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Kota Seribu Gumuk: Keunikan Lanskap Alam yang Membentuk Wajah Jember

Dwi Siswanto • Rabu, 5 November 2025 | 00:56 WIB

Agrowista Gumuk Watu destinasi baru Menikmati Sunset di langit Jember, (Azzqal Azkia/ Radar Jember)
Agrowista Gumuk Watu destinasi baru Menikmati Sunset di langit Jember, (Azzqal Azkia/ Radar Jember)

Halo Jember - Jember bukan hanya dikenal lewat kopi, tembakau, atau pantainya yang cantik.

Kabupaten di selatan Jawa Timur ini punya ciri khas alam yang tak dimiliki daerah lain gumuk, yaitu gundukan tanah menyerupai bukit kecil yang tersebar di berbagai wilayah.

Dari ribuan gumuk inilah muncul julukan yang melekat kuat: Kota Seribu Gumuk.

Secara geologis, gumuk terbentuk ribuan tahun lalu akibat letusan besar Gunung Raung purba.

Material vulkanik yang terlontar mengendap dan membentuk gundukan-gundukan tanah terisolasi di tengah dataran.

Gumuk-gumuk itu tersebar luas, mulai dari wilayah Ledokombo, Kalisat, hingga Tanggul, bahkan ditemukan hingga Ambulu dan Jenggawah di selatan Jember.

Bentuknya beragam, dengan ketinggian sekitar 50 hingga 100 meter dan diameter hingga 200 meter.

Dari arah timur ke barat, ukuran gumuk semakin kecil, menciptakan lanskap khas yang membedakan Jember dari daerah lain.

Keberadaan gumuk ternyata punya peran penting dalam kehidupan masyarakat. Secara ekologis, gumuk berfungsi sebagai penahan angin alami yang melindungi tanaman, terutama tembakau yang menjadi salah satu komoditas unggulan Jember.

Vegetasi di gumuk juga berperan menyerap air hujan dan menyimpannya di dalam tanah.

Tak hanya itu, gumuk membantu menjaga kesuburan lahan dan menjadi habitat bagi berbagai jenis burung serta serangga.

Dengan kata lain, gumuk bukan sekadar pemandangan, tapi juga bagian penting dari sistem alam yang menopang kehidupan warga.

Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, banyak gumuk mulai terancam.

Penambangan pasir dan batu untuk kebutuhan konstruksi membuat beberapa gumuk rusak, sementara pembangunan pemukiman dan infrastruktur turut mempersempit wilayahnya.

Hilangnya gumuk bukan hanya soal berkurangnya keindahan alam, tapi juga hilangnya fungsi ekologis yang selama ini menjaga keseimbangan lingkungan.

Tanpa gumuk, risiko bencana seperti kekeringan, banjir, dan angin kencang bisa meningkat.

Menariknya, fenomena gumuk tidak hanya ditemukan di Jember.

Gundukan serupa juga terdapat di wilayah lain yang termasuk dalam jalur Ring of Fire, seperti Filipina dan Jepang.

Namun, di Jember, gumuk memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Di antara lahan pertanian, rumah warga, dan jalan desa, gumuk menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari.

Warga sudah terbiasa hidup berdampingan dengan bentang alam ini, menjadikannya ciri khas sekaligus warisan geologi yang unik.

Julukan Kota Seribu Gumuk bukan hanya sebutan geografis, tapi juga cerminan bagaimana alam membentuk karakter sebuah daerah.

Gumuk mengingatkan bahwa keindahan Jember tidak hanya ada di pantai atau pegunungannya, tetapi juga di gundukan-gundukan kecil yang menyimpan sejarah letusan purba.

Penulis: Tazyinatul Ilmiah

Editor : Dwi Siswanto
#jember #alam #Gumuk #gunung raung #lanskap alam