Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Ater Tajin Sappar, Tradisi Manis di Jember yang Tetap Hangat di Bulan Safar

Dwi Siswanto • Kamis, 13 November 2025 | 04:06 WIB
ATER TAJIN SAPAR diambil dari website salsabilafm (Foto: Mukrim/Salsa)
ATER TAJIN SAPAR diambil dari website salsabilafm (Foto: Mukrim/Salsa)

Halo Jember - Setiap datang bulan Safar, suasana kampung di Jawa dan Madura terasa sedikit berbeda.

Aroma wangi santan dan gula merah menyeruak dari dapur rumah warga tanda dimulainya tradisi lama yang masih bertahan hingga kini: Ater Tajin Sappar, atau berbagi bubur khas bulan Safar.

Bubur yang satu ini bukan sembarang bubur. Wujudnya unik, berwarna cokelat muda dengan bagian tengah berwarna putih, lengkap dengan bulatan kecil seperti kelereng di atasnya.

Bahan-bahannya sederhana tepung beras, gula merah, dan santan  tapi maknanya dalam banget.

Menurut kepercayaan yang berkembang, warna cokelat melambangkan darah ibu, putih di tengah melambangkan air mani ayah, sementara bulatan bubur padatnya melambangkan bibit kehidupan.

Filosofinya jelas: manusia berasal dari sesuatu yang sederhana, jadi jangan pernah sombong dan selalu ingat untuk berbagi.

Di Jember, tradisi ini dikenal dengan istilah “Ater Tajin Sappar”, yang secara harfiah berarti mengantarkan tajin (bubur) di bulan Safar.

Biasanya, warga memasak tajin bersama keluarga, lalu membaginya ke tetangga dan sanak saudara.

Momen ini bukan cuma tentang makanan, tapi juga ajang mempererat silaturahmi. Kadang, mereka saling berkunjung sambil ngobrol santai atau berdoa bersama sebelum menyantap tajin tersebut.

Bagi sebagian masyarakat Jember, Ater Tajin Sappar bukan sekadar ritual tahunan, tapi juga cara menjaga keseimbangan antara tradisi dan kehidupan modern.

Di tengah kesibukan kerja dan hiruk pikuk media sosial, momen sederhana seperti ini jadi pengingat bahwa kebahagiaan bisa datang dari hal-hal kecil seperti sepiring bubur hangat dan senyum manis dari tetangga sebelah rumah.

Fun fact menarik, tradisi ini dipercaya sudah ada sejak zaman Walisongo, dan konon Sunan Kalijaga-lah yang memperkenalkannya sebagai cara menyebarkan ajaran Islam lewat budaya.

Maka jangan heran, kalau nilai-nilai yang diajarkan lewat bubur ini begitu islami: sedekah, kebersamaan, dan rasa syukur atas rezeki sekecil apa pun.

Meski zaman terus berubah dan generasi muda lebih akrab dengan tren digital daripada tradisi dapur, sebagian warga Jember masih setia menjaga kebiasaan ini. Mereka percaya, tajin sappar bukan cuma kuliner, tapi juga pengingat halus bahwa hidup yang manis itu tercipta dari kebersamaan dan hati yang tulus berbagi.

Penulis: Tazyinatul Ilmiah

 

 
Editor : Dwi Siswanto
#bubur #ater tajin sappar #bulan Safar #zaman walisongo #tradisi manis