KARANGREJO, Radar Jember - Malam itu, halaman Museum Telu di Jember berubah menjadi panggung kecil penuh semangat kepahlawanan. Belasan peserta dari pelajar SMP hingga setingkat SMA bersiap untuk tampil dalam lomba monolog bertema pahlawan.
Beberapa siswa tampak mengenakan seragam pejuang dengan ikat kepala merah putih, ada pula yang mengenakan pakaian sederhana layaknya petani, lengkap dengan bambu runcing di tangan.
Dari sudut lain, seorang siswi madrasah memeluk pigura foto pahlawan revolusi, seolah tengah menyiapkan persembahan suci bagi masa lalu.
“Monolog itu bukan sekadar bicara sendiri di panggung. Bila menjiwai betul, ada yang benar-benar menangis betul,” ujar Asri Sundari juri lomba monolog.
Satu per satu peserta naik ke panggung kecil. Ada yang mencoba mengisahkan bagaimana sosok Nyi Ageng Serang. Penonton, tampak terdiam, larut dalam setiap kata dan jeda.
“Lewat monolog, anak-anak belajar menjadi pencerita sejarah. Mereka tidak hanya menghafal teks, tapi memahami makna perjuangan,” kata Siti Nurhayati, Guru Bahasa Indonesia SMKN 5 Jember. (dwi)
Baca Juga: Mengunjungi Museum Terbuka Megalitik Bondowoso
Seni Menyatu dengan Tokoh
BAGI sebagian orang, monolog hanyalah seni berbicara seorang diri di atas panggung. Lebih dari itu monolog adalah perjalanan sunyi yang penuh makna. Sebuah dialog antara aktor dan nurani.
Dalam dunia seni peran, monolog adalah bentuk pertunjukan tunggal. Seorang aktor berbicara kepada dirinya sendiri, penonton, atau bahkan tokoh imajiner. Tidak ada lawan main, tidak ada reaksi langsung. Hanya ruang hening dan kekuatan ekspresi.
Ada tiga hal utama dalam bermain monolog. Diantaranya, pemahaman naskah yang mana harus menyelami cerita dan latar tokoh.
Selain itu ada, ekspresi tubuh dan suara. Ada juga interaksi imajinatif, karena tidak ada lawan main, maka aktor menciptakan bayangan tokoh lain di pikirannya.
Ia harus mampu “berdialog” dengan udara, seolah-olah berbicara kepada dunia.
Sementara, Kepala Museum Telu Moch Hasan, menyampaikan, momentum Hari Pahlawan adalah saat yang tepat untuk memperkuat peran museum sebagai ruang edukasi sejarah dan kebudayaan.
“Museum bukan hanya tempat menyimpan benda bersejarah, melainkan juga media untuk membangun kesadaran kolektif tentang jati diri bangsa,” terangnya. (dwi)
Editor : Dwi Siswanto