Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Membongkar Mitos Beracun: Kisah Tomat yang Dahulu Dicap Beracun

Dwi Siswanto • Minggu, 23 November 2025 | 22:00 WIB
FOTO: diambil dari website pixabay kiriman Myriams-Fotos
FOTO: diambil dari website pixabay kiriman Myriams-Fotos

Halo Jember - Sebelum menjadi bintang dapur modern dari sambal Indonesia sampai pasta Italia tomat mengalami perjalanan yang jauh lebih dramatis daripada yang dibayangkan.

Asalnya dari kawasan Amerika Tengah dan Selatan, buah merah ini sudah ditanam oleh masyarakat Aztec dan Maya ribuan tahun sebelum globalisasi kuliner dimulai.

Mereka menyebutnya tomatl, dan menggunakannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, tanpa sedikit pun curiga bahwa ribuan kilometer jauhnya, dunia lain akan menyebutnya “buah berbahaya.”

Perjalanan tomat keluar dari tanah asalnya dimulai ketika penjelajah Spanyol membawa tanaman ini ke Eropa pada abad ke-16.

Sayangnya, perjumpaan pertama tomat dengan masyarakat Eropa tidak berjalan mulus. Alih-alih disambut sebagai bahan baru yang menjanjikan, tomat justru masuk daftar tanaman yang “patut dicurigai.”

Karena masih satu keluarga dengan nightshade kelompok tanaman yang terkenal beracun, masyarakat Eropa otomatis menilai tomat sebagai tanaman berbahaya yang sebaiknya dijauhkan dari meja makan.

Drama ini makin panjang ketika sejumlah bangsawan jatuh sakit setelah menyantap hidangan berbahan tomat.

Tanpa riset dan tanpa konteks, masyarakat langsung menyimpulkan bahwa tomat adalah pelakunya. Padahal, masalah aslinya ada pada piring timah yang mereka gunakan.

Keasaman tomat membuat timbal larut dari piring, memicu keracunan yang kemudian disalahkan pada buahnya. Kesalahpahaman ini bertahan ratusan tahun dan membentuk reputasi negatif tomat hampir di seluruh Eropa.

Meski begitu, tidak semua wilayah terpaku pada ketakutan tersebut. Masyarakat Mediterania, terutama Italia, punya rasa penasaran yang lebih tinggi.

Perlahan-lahan, tomat mulai masuk ke dapur-dapur Italia dan akhirnya menjadi elemen kunci dalam hidangan klasik seperti saus pasta dan pizza. Ketika pizza mulai populer pada akhir abad ke-19, persepsi tentang tomat pun berbalik drastis.

Yang tadinya dianggap berbahaya, berubah menjadi bahan yang justru mendefinisikan identitas kuliner mereka.

Popularitas tomat makin meluas ketika teknologi pengalengan berkembang dan distribusi makanan menjadi lebih modern.

Tomat kaleng, saus siap pakai, dan berbagai hasil olahan membuat buah ini mudah diakses di banyak negara. Dari Eropa, tomat menyebar ke Timur Tengah, Asia, hingga Asia Tenggara.

Di Indonesia, tomat mulai dikenal sejak abad ke-18 dan mendapatkan tempat istimewa dalam berbagai hidangan.

Kini tomat hadir di mana-mana dalam sambal, sayur bening, sop, hingga jus segar dan menjadi bukti bahwa sesuatu yang dulu dianggap “berbahaya,” bisa berubah jadi ikon kuliner global.

Penulis: Tazyinatul Ilmiah

Editor : Dwi Siswanto
#bintang dapur #antioksidan #kuliner sehat #buah #tomat