Halo Jember - Coba bayangkan kalau kita hidup ribuan tahun lalu tidak ada jam weker, nggak ada jam kerja, dan tentu nggak ada kata “sarapan dulu supaya memiliki energi.”
Orang zaman dulu makan kalau lapar, berhenti kalau kenyang, dan kadang nggak makan sama sekali kalau makanan lagi susah. Simpel. Tapi entah sejak kapan, kita tiba-tiba punya aturan tak tertulis untuk makan tiga kali sehari.
Ternyata, pola makan yang dianggap “normal” ini bukan muncul karena tubuh manusia membutuhkannya, tapi karena jadwal kerja.
Kebiasaan makan tiga kali sehari ini merupakan warisan dari kaum bangsawan dan pekerja Inggris pada masa Revolusi Industri.
Saat itu, orang-orang mulai hidup mengikuti ritme jam pabrik masuk pagi, pulang sore, istirahat di tengah hari.
Agar kuat bekerja, mereka makan di jam yang sama setiap hari. Dari sinilah lahir konsep sarapan, makan siang dan makan malam yang kita kenal sampai sekarang.
Tapi jauh sebelum itu, dunia belum kenal sarapan. Bangsa Romawi, misalnya, biasanya hanya makan sekali sehari, di sekitar tengah hari.
Menurut sejarawan Caroline Yeldham sebagaimana dikutip dari artikel “Breakfast, lunch and dinner: Have we always eaten them?” termuat di BBC News Magazine, 15 November 2012 menyebutkan bahwa orang Romawi dulu percaya makan lebih dari sekali itu tanda kerakusan.
Jadi kalau kamu pernah merasa bersalah ngemil malam-malam, mungkin jiwa Romawimu sedang bangkit.
Ketika Eropa memasuki masa keagamaan yang kuat di Abad Pertengahan, jam makan mulai berubah lagi.
Ada larangan makan sebelum misa pagi, dan daging hanya boleh dimakan di waktu tertentu. Dari sinilah kata “sarapan” muncul secara harfiah berarti “berbuka dari puasa”.
Ritual keagamaan bahkan melahirkan cikal bakal sarapan Inggris lengkap, karena sebelum masa Prapaskah, orang harus menghabiskan daging dan telur.
Lalu datanglah abad ke-17, ketika kopi, teh, dan telur orak-arik mulai jadi gaya hidup kaum kaya Inggris.
Menjelang 1740-an, rumah-rumah bangsawan punya ruang khusus untuk sarapan. Namun, bukan cuma pagi yang berubah siang pun mulai punya waktunya sendiri.
Kata lunch diyakini berasal dari nuncheon, camilan cepat di antara dua waktu makan. Tapi yang bikin lunch jadi “makan siang” justru pengaruh Prancis.
Orang Prancis mulai makan ringan di malam hari dan makan berat di siang hari, lalu kebiasaan itu ditiru oleh kaum elit Inggris.
Begitu Revolusi Industri datang, pola makan semakin formal. Para buruh bangun pagi, sarapan cepat, lalu makan siang di sela kerja dengan makanan praktis seperti pai dan roti isi.
Sementara makan malam, yang dulu dihidangkan sekitar tengah hari, mulai bergeser ke malam hari karena adanya penerangan buatan. Malam pun menjadi waktu makan setelah seharian lelah bekerja.
Denise Winterman dari Majalah Berita BBC pernah menulis laporan menarik tentang hal ini. Ia menelusuri bagaimana struktur makan tiga kali sehari yang sekarang kita anggap wajar ternyata belum ada sebelum masyarakat beranjak modern.
Menurutnya, pola ini lebih merupakan hasil dari konstruksi sosial dan budaya industri, bukan kebutuhan biologis manusia.
Lucunya, meski semua ini bermula dari kebutuhan praktis, kebiasaan makan tiga kali sehari akhirnya jadi simbol keteraturan dan “modernitas.”
Pemerintah Eropa di awal abad ke-20 bahkan sempat mengkampanyekan pentingnya sarapan seolah sarapan itu, harimu berantakan.
Setelah PerangDunia II, menu praktis seperti kopi instan, roti tawar, dan sereal manis pun jadi primadona dunia barat.
Sekarang, ketika ritme hidup makin fleksibel dan kerja bisa dilakukan dari mana saja, banyak orang mulai mempertanyakan lagi: apa kita masih butuh makan tiga kali sehari? Apalagi, riset menunjukkan tubuh manusia nggak benar-benar “butuh” makan sebanyak itu yang penting adalah keseimbangan dan rasa lapar alami.
Bisa jadi, di masa berikutnya manusia akan kembali ke pola lama: makan saat lapar, berhenti saat kenyang.
Pola yang lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan setiap manusia, bukan terpatok pada pola general.
Karena kalau dipikir-pikir, makan tiga kali sehari bukan aturan alam itu merupakan hasil kesepakatan sosial yang diwariskan dari zaman mesin uap.
Dan siapa tahu, seratus tahun lagi, orang-orang bakal heran kenapa kita dulu rela bangun pagi hanya untuk makan roti dan telur sebelum kerja.
Penulis: Tazyinatu Ilmiah
Editor : Dwi Siswanto