Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Perjuangan Tak Kenal Lelah Letkol Moch. Sroedji, Sang Komandan Gerilya dari Jember

Dwi Siswanto • Kamis, 4 Desember 2025 | 15:12 WIB
Patung Letkol Moch Sroedji di Alun-Alun Jember  Dok. Radar Jember
Patung Letkol Moch Sroedji di Alun-Alun Jember Dok. Radar Jember

HALO JEMBER - Jember, sebuah kota yang kental dengan aroma tembakau dan keberagaman budaya, menyimpan kisah heroik seorang pahlawan nasional yang jasanya tak lekang dimakan waktu, yakni Letnan Kolonel Inf. (Anumerta) Mohammad Sroedji. 

Walaupun lahir di Bangkalan, Madura, perjuangan Sroedji sebagai Komandan Brigade III Divisi VII/TNI yang wilayah operasinya meliputi kawasan eks Karesidenan Besuki termasuk Jember, Bondowoso, Situbondo, hingga Banyuwangi, telah mengukir namanya dengan tinta emas dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Semangat juang dan pengorbanannya menjadi pelajaran berharga yang relevan bagi generasi kini.

Sroedji dikenal bukan hanya sebagai pemimpin militer, tetapi juga sebagai sosok yang berani, cerdik, dan sangat dekat dengan rakyatnya.

Sebelum terjun sepenuhnya ke medan tempur, beliau sempat menanggalkan profesinya sebagai guru demi membela Tanah Air. Keputusan ini menunjukkan dedikasi total tanpa pamrih. 

Dalam menghadapi Agresi Militer Belanda, Sroedji dan pasukannya yang dikenal sebagai Brigade III Damarwulan, mengandalkan strategi gerilya yang efektif. Strategi ini mengutamakan mobilitas tinggi, serangan cepat, dan penguasaan medan sebuah taktik yang membuat pergerakan tentara Belanda selalu terhambat dan frustrasi.

Bagi Sroedji, perang bukan hanya soal senjata, melainkan juga soal kekuatan mental dan dukungan rakyat. 

Ia adalah pemimpin yang tak pernah ragu untuk turun langsung ke lapangan, berbagi suka duka, dan memastikan pasukannya selalu siap siaga.

Kedekatannya dengan warga sipil inilah yang menjadi kunci sukses dalam strategi gerilya, sebab rakyat adalah mata, telinga, dan lumbung logistik para pejuang.

Namun, perjuangan gagah berani Sroedji harus terhenti pada tahun 1949. Beliau gugur dalam pertempuran sengit di Bondowoso saat memimpin operasi gerilya.

Momen gugurnya Sroedji memiliki kisah yang menyayat hati, ia bersama Letkol dr. Soebandi, Residen Militer Besuki, bertarung dalam pertempuran di Karang Kedaung. 

Saat Sroedji terluka parah, dr. Soebandi berupaya menolong, namun kebrutalan militer Belanda tak mengindahkan aturan perang, dan menembak dr. Soebandi hingga gugur.

Dalam kondisi luka parah, Sroedji sempat mengamuk, menembaki serdadu Belanda, menunjukkan keberanian luar biasa hingga titik darah penghabisan. Kepergiannya merupakan duka mendalam bagi seluruh pejuang dan rakyat.

Kini, warisan semangat Letkol Moch. Sroedji tetap menyala di Jember. Namanya diabadikan di berbagai tempat sebagai bentuk penghormatan, termasuk pada patung yang berdiri tegak di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Jember dan nama Taman Makam Pahlawan Patrang, tempat beliau dimakamkan. 

Pelajaran yang dapat dipetik dari perjuangan Sroedji sangatlah mendalam yaitu integritas, keberanian, dan pengorbanan tanpa batas.

Ia mengajarkan kita bahwa membela bangsa bukan hanya tugas di masa perang, tetapi juga tentang dedikasi dalam setiap peran, kecerdikan dalam menghadapi tantangan, dan yang terpenting, kedekatan dengan sesama. 

Semangat untuk tidak pernah menyerah, bahkan saat menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar, adalah warisan yang harus terus kita jaga dan aplikasikan dalam konteks perjuangan modern, baik dalam pembangunan daerah maupun dalam menegakkan nilai-nilai kebangsaan.

Penulis: Inas Masyura

Editor : Dwi Siswanto
#jember #DR Soebandi #Letkol Moch Sroedji #tembakau #bangkalan madura