Halo Jember - Cokelat mungkin kelihatan kayak snack manis biasa, tapi sejarahnya panjang banget bahkan lebih tua daripada banyak peradaban modern.
Semua bermula jauh sebelum es krim cokelat atau brownies ada. Di Amerika Latin, sekitar 1000 SM, pohon kakao tumbuh liar dan jadi bagian penting budaya masyarakat setempat.
Suku Olmec disebut sebagai yang pertama mengenal minuman cokelat, dan dari kata merekalah “kakawa” akhirnya berubah menjadi “cacao” yang kita kenal sekarang.
Dulu, isi buah kakao tersembunyi dalam polong besar berisi biji-biji yang dibalut daging buah putih.
Caranya diproses pun masih sederhana, difermentasi berhari-hari hingga bijinya gelap dan hilang rasa pahitnya, lalu dikeringkan di bawah matahari.
Siapa sangka bahan sederhana ini nanti bakal jadi komoditas global yang bikin satu pohon saja bisa menghasilkan hampir 2.000 polong setahun?
Yang menarik, cokelat awalnya bukan kudapan manis. Bangsa Maya menjadikannya minuman khusus kadang dicampur jagung dan rempah serta mereka memperlakukan biji kakao seperti barang berharga.
Bahkan ketika suku Aztec mengambil alih wilayah Maya, tradisi ini tetap dilanjutkan. Kakao dipakai buat transaksi ekonomi, upacara, sampai persembahan. Aztec bahkan suka menikmati cokelat dalam keadaan dingin, sesuatu yang cukup unik pada masanya.
Saat kakao akhirnya mendarat di Spanyol, reaksinya agak campur aduk. Rasa asli cokelat yang pahit membuat orang Eropa kurang sreg. Tapi begitu gula ditambahkan, semuanya berubah.
Cokelat langsung naik kasta jadi minuman favorit kalangan bangsawan. Dari sinilah cokelat menyebar ke seluruh Eropa, perlahan bertransformasi dari ramuan upacara menjadi tren konsumsi.
Di Prancis, cokelat bahkan sempat jadi hadiah super mewah. Ada kisah tentang Putri Maria Theresa yang memberikan cokelat kepada Louis XIV sebagai hadiah pertunangan.
Dari sana, cokelat benar-benar masuk ke kehidupan istana bahkan sampai memunculkan industri khusus agar bisa diproduksi dan dijual resmi.
Baca Juga: Resep Kue Kering Brownies Kacang Mete untuk Suguhan Lebaran
Begitu Eropa mulai gencar membuka koloni dan perkebunan, kakao dibawa keluar dari benua asalnya. Inggris, Belanda, dan Prancis menanamnya di wilayah tropis termasuk Asia dan Afrika.
Inovasi besar muncul ketika Coenraad Van Houten menciptakan alat pengepres kakao, yang membuat bubuk kakao lebih mudah diolah. Penemuan berikutnya membuka jalan lahirnya cokelat padat di tahun 1850-an awal mula cokelat batangan modern.
Di sisi lain dunia, penelitian arkeologis menunjukkan bagaimana cokelat punya peran penting pada kehidupan Maya.
Di masa kejayaannya, biji kakao jadi alat tukar setara mata uang. Mereka membayar pajak, membeli barang, sampai memberi upeti kepada penguasa dengan biji kakao.
Banyak mural dan tembikar menggambarkan transaksi itu, dari adegan pasar hingga proses pembayaran makanan dengan semangkuk cokelat panas. Pada titik ini, cokelat bukan lagi sekadar minuman ia jadi simbol nilai ekonomi.
Hal menarik lainnya, pemimpin Maya diketahui mengumpulkan lebih banyak biji kakao daripada yang bisa mereka konsumsi.
Surplus ini dipakai untuk menggaji pekerja atau berbelanja di pasar. Popularitas kakao bahkan membuatnya lebih bernilai daripada hasil panen seperti jagung, karena pohon kakao jauh lebih rentan gagal panen dan hanya bisa tumbuh di wilayah tertentu.
Sebagian peneliti bahkan menduga kekurangan pasokan kakao bisa ikut memperkeruh kondisi politik dan ekonomi, meski teori ini masih jadi bahan perdebatan.
Yang jelas, dari masa ketika cokelat dicampur cabai dan rempah, sampai berkembang jadi snack manis kesukaan banyak orang, perjalanan kakao panjang banget dan selalu berubah mengikuti budaya yang mengadopsinya.
Sekarang, cokelat jadi salah satu komoditas global paling popular bahkan punya Hari Cokelat Sedunia setiap 7 Juli. Dari mata uang kuno hingga camilan modern, cokelat membuktikan dirinya selalu punya tempat di hati manusia.
Penulis: Tazyinatul Ilmiah
Editor : Dwi Siswanto