Halo Jember - Yaki, si monyet hitam berjambul khas Sulawesi, mungkin terlihat nyentrik dengan jambul ala punk dan pantat merah mudanya, tapi hidup mereka di hutan Sulawesi jauh dari kata aman.
Spesies yang secara ilmiah disebut Macaca nigra ini sudah menetap di pulau itu sejak jutaan tahun lalu, beradaptasi dengan hutan hujan yang lembap, terjal, dan masih dipenuhi misteri.
Mereka termasuk salah satu primata paling ikonik di Indonesia, sekaligus salah satu yang nasibnya paling mengkhawatirkan.
Ciri mereka gampang dikenali: tubuh hitam pekat, wajah gelap, jambul yang berdiri tegak, dan warna bagian belakang tubuh yang terang.
Pada betina, warna itu bisa berubah-ubah sesuai masa subur. Penampilan mencolok itu justru bikin mereka makin mudah diperhatikan, tapi sayangnya bukan selalu dalam konteks positif.
Bertahun-tahun, yaki berhadapan dengan perburuan, perdagangan ilegal, sampai dimakan sebagai bushmeat.
Padahal, keberadaan mereka sudah lama punya makna budaya bagi masyarakat sekitar.
Di habitatnya sendiri, yaki hidup dalam kelompok besar yang strukturnya jelas banget.
Ada urutan dominasi, ada anggota yang saling grooming buat menjaga hubungan tetap rukun, ada sesi bermain, bahkan ada momen-momen yang mirip “rapat kecil” kelompok.
Kadang jumlah mereka cuma belasan, tapi bisa juga tembus sampai puluhan. Komunikasi mereka pun kompleks, penuh vokalisasi untuk menandai bahaya, panggilan mencari makan, atau sekadar memastikan semua anggota kelompok tetap terhubung.
Namun semua perilaku sosial itu mulai sulit bertahan ketika hutan makin terpotong-potong. Perluasan perkebunan, pembangunan, dan pembukaan lahan bikin ruang hidup mereka makin sempit.
Ketika hutan terpisah-pisah, populasi yaki jadi terpecah juga. Mereka jadi kesulitan bertemu kelompok lain untuk berkembang biak, dan ini bikin variasi genetik menurun drastis. Efeknya? Mereka jadi lebih rentan terhadap penyakit karna perubahan lingkungan.
Belum lagi konflik dengan manusia. Ketika makanan di hutan berkurang, yaki kadang masuk kebun warga.
Tanaman rusak, petani kesal, dan ujung-ujungnya yaki dianggap mengganggu. Situasi seperti ini bikin hubungan manusia–satwa makin renggang.
Sementara itu, perburuan untuk konsumsi masih berjalan, meski status mereka sudah dilindungi dan klasifikasinya di IUCN bahkan masuk kategori Kritis.
Banyak anak yaki juga dicuri dari induknya hanya untuk dijual sebagai hewan peliharaan, meninggalkan kelompoknya dan mengacaukan dinamika sosial yang sudah stabil.
Semua cerita tentang yaki pada akhirnya menegaskan satu hal, mereka adalah bagian penting dari lanskap Sulawesi, tapi sekaligus jadi simbol rapuhnya ekosistem yang terus terdesak.
Banyak organisasi kini bergerak untuk menjaga mereka, dari edukasi warga sampai perlindungan kawasan konservasi.
Upaya-upaya ini jadi harapan terakhir agar generasi mendatang tidak hanya mengenal yaki lewat foto lama, tapi bisa melihat mereka hidup, bergerak, dan tetap menjadi ikon hutan Sulawesi.
Penulis: Tazyinatul Ilmiah
Editor : Dwi Siswanto