Fenomena langit langka berupa gerhana matahari cincin akan kembali terjadi pada 17 Februari 2026.
Peristiwa alam yang dikenal sebagai “cincin api” ini menjadi sorotan ilmuwan dunia karena efek visualnya yang spektakuler, meski jalur pengamatannya sangat terbatas.
Gerhana matahari cincin terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari pada fase bulan baru, tetapi ukurannya tampak lebih kecil dari piringan Matahari karena jarak orbitnya yang relatif lebih jauh.
Akibatnya, Bulan tidak sepenuhnya menutupi Matahari sehingga menyisakan cahaya tepi yang terang menyerupai cincin api.
Puncak gerhana diperkirakan terjadi sekitar pukul 19.12 WIB, dan hanya akan dapat disaksikan secara penuh di wilayah Antarktika, khususnya pada jalur sempit yang dilalui fase annular gerhana.
Karena lokasinya yang sulit diakses, dipastikan akan lebih banyak pinguin yang menyaksikan gerhana ini dibanding manusia.
Hanya ilmuwan dan kalangan tertentu yang memiliki biaya dan tenaga yang cukup besar untuk bisa melihat gerhana ini secara langsung.
Lebih jauh, di jalur ini cahaya Matahari akan tampak seperti cincin menerangi Bulan selama kurang lebih 2 menit 20 detik sebelum fenomena berakhir.
Wilayah lain seperti Afrika bagian selatan dan ujung selatan Amerika Selatan hanya akan melihat gerhana dalam fase sebagian.
Professor Astronomi dari Observatorium Nasional, Prof. Daniel Harsono, menyebut fenomena ini tetap menarik meski tidak tampak di Indonesia.
“Gerhana matahari cincin seperti yang terjadi 17 Februari nanti merupakan kesempatan penting bagi ilmuwan untuk menguji model orbit dan interaksi Bumi-Bulan-Matahari," Kata Prof. Harsono kepada National Geographic Indonesia via telekonferensi, Senin lalu.
"Meski terlihat penuh hanya dari lokasi terpencil, fase parsial tetap bisa memicu minat masyarakat pada sains,” lanjutnya.
Secara global, gerhana matahari—baik total maupun cincin—terjadi beberapa kali dalam satu dekade, namun bentuk “cincin api” hanya terjadi ketika posisi Bulan berada pada jarak tertentu dalam orbitnya sehingga fenomena ini terbilang lebih jarang terlihat dari satu lokasi tertentu di permukaan Bumi.
Menurut studi astronomi terbaru, rata-rata sebuah lokasi di Bumi akan mengalami gerhana matahari annular hanya sekitar setiap 226 ± 4 tahun, meskipun secara global ada beberapa gerhana annular yang berbeda setiap beberapa tahun.
Fenomena ini sekaligus menjadi pembuka rangkaian kejadian astronomi penting tahun 2026; selain gerhana cincin Februari, tahun ini juga akan terjadi gerhana matahari total pada 12 Agustus yang dapat disaksikan dari beberapa wilayah daratan Bumi.
Masyarakat di luar jalur pengamatan penuh—termasuk di Indonesia—tidak akan melihat langsung cincin api, namun tetap dapat mengikuti peristiwa ini melalui siaran langsung daring (live streaming) yang biasanya disediakan oleh lembaga astronomi internasional.
Editor : Yulio Faruq Akhmadi