Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Dari Tanda Kematian hingga Pertanda Malapetaka, Ini Mitos Gerhana Matahari di Berbagai Budaya. No 5 Paling Masuk Akal!

Yulio Rj • Jumat, 13 Februari 2026 | 18:00 WIB
SERAM: Dalam mitologi Hindu, Rahu Asura dikisahkan menelan matahari sebagai tindakan balas dendamnya.
SERAM: Dalam mitologi Hindu, Rahu Asura dikisahkan menelan matahari sebagai tindakan balas dendamnya.

Fenomena gerhana matahari selalu memancing perhatian masyarakat dunia.

Namun jauh sebelum penjelasan ilmiah berkembang, perubahan mendadak dari terang menjadi gelap di siang hari sering menimbulkan ketakutan.

Akibatnya, banyak masyarakat di berbagai belahan dunia mengaitkan gerhana dengan tanda-tanda gaib, pertanda bencana, hingga kematian.

Berikut sejumlah mitos gerhana matahari yang berkembang di berbagai budaya, termasuk di Indonesia.

1. Matahari Ditelan Naga

Di wilayah Asia Timur seperti Tiongkok dan Vietnam, gerhana dipercaya terjadi saat naga atau makhluk raksasa menelan matahari.

Karena itu, masyarakat zaman dahulu membuat suara gaduh dengan memukul gong, drum, atau peralatan rumah tangga agar naga tersebut ketakutan dan memuntahkan kembali matahari.

Tradisi membuat kebisingan ini bahkan tercatat berlangsung turun-temurun di sejumlah desa hingga masa modern.

2. Matahari Dimakan Raksasa Rahu

Di India, gerhana dikaitkan dengan legenda Rahu, raksasa yang meminum cairan keabadian dan kemudian dipenggal oleh para dewa.

Meski kepalanya terpisah dari tubuh, Rahu dipercaya masih hidup dan sesekali menelan matahari sebagai bentuk balas dendam.

Karena itulah, sebagian masyarakat India dahulu memilih berdiam di rumah saat gerhana berlangsung dan melakukan ritual penyucian setelahnya.

3. Pertanda Datangnya Bencana Besar

Di berbagai wilayah Eropa dan Afrika, gerhana kerap dikaitkan dengan datangnya bencana seperti perang, wabah penyakit, gagal panen, hingga kematian pemimpin penting.

Kegelapan yang tiba-tiba muncul di siang hari dianggap sebagai pesan alam bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Catatan sejarah bahkan menunjukkan beberapa peristiwa perang atau pergolakan politik pernah dikaitkan dengan kemunculan gerhana oleh masyarakat setempat.

4. Roh dan Makhluk Gaib Berkeliaran

Sebagian komunitas tradisional percaya gerhana membuka jalan bagi roh dan makhluk gaib untuk berkeliaran di dunia manusia.

Karena itu, orang tua zaman dulu sering melarang anak-anak keluar rumah saat gerhana terjadi.

Kepercayaan ini masih tersisa di sejumlah wilayah pedesaan hingga kini sebagai bagian dari cerita turun-temurun.

5. Larangan bagi Ibu Hamil Keluar Rumah

Di Indonesia, serta beberapa negara Asia lainnya, ibu hamil kerap diminta tidak keluar rumah saat gerhana.

Konon, jika terkena dampak gerhana, bayi yang dikandung dapat mengalami gangguan fisik atau nasib buruk.

Karena itu, sebagian keluarga melakukan ritual tertentu atau membaca doa untuk melindungi ibu dan bayi.

6. tanda Kematian

Di beberapa komunitas tradisional, gerhana juga dipercaya sebagai pertanda akan ada tokoh penting atau anggota masyarakat yang meninggal dunia jika tidak dilakukan ritual tertentu.

Meski kini fenomena gerhana sudah dapat dijelaskan secara ilmiah sebagai peristiwa astronomi biasa, berbagai mitos tersebut masih hidup di tengah masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya turun-temurun.

 

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
#mistis #budaya #gerhana #Mitos Candi Ratu Boko #gerhana matahari #pertanda