Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Bisakah AI mencintai manusia atau sebaliknya? Penelitian Ini Mengungkap Hasil Mengejutkan

Yulio Rj • Minggu, 15 Februari 2026 | 13:00 WIB

Ilustrasi manusia mulai menaruh rasa pada kecerdasan buatan
Ilustrasi manusia mulai menaruh rasa pada kecerdasan buatan

Halojember - Kecerdasan buatan kini bukan sekadar alat bantu kerja.

AI sudah bisa menulis puisi cinta, menjadi teman curhat, bahkan bagi sebagian orang, menjadi pasangan virtual.

Pertanyaannya, apakah cinta itu bisa berjalan dua arah?

Fenomena manusia jatuh cinta pada AI bukan lagi cerita fiksi ilmiah.

Di Kanada, seorang pria bahkan melamar avatar digital bernama Saia karena merasa benar-benar jatuh hati.

Di Amerika Serikat, seorang perempuan muda yang menggunakan nama samaran Ayrin mengaku menjalin hubungan asmara dengan chatbot bernama Leo.

Aplikasi pendamping virtual seperti Replika kini memiliki jutaan pengguna aktif.

Studi pada 2024 bahkan menemukan sekitar 40 persen penggunanya menganggap chatbot mereka sebagai pasangan romantis.

Namun para ahli menegaskan, balasan yang diberikan AI sejatinya hanya hasil olahan algoritma yang meniru percakapan manusia, bukan perasaan sungguhan.

Menurut Renwen Zhang dari Nanyang Technological University, banyak chatbot sengaja dibuat terasa seperti manusia agar pengguna merasa nyaman dan terus berinteraksi.

“Ini strategi untuk membuat pengguna semakin terikat dan percaya,” jelasnya.

Masalahnya, pengguna sering lupa bahwa mereka sebenarnya sedang berbicara dengan mesin.

Saat aplikasi mengalami gangguan atau berhenti merespons, barulah kesadaran itu muncul, dan tak jarang menimbulkan rasa kecewa atau terluka.

Zhang menilai chatbot seharusnya sejak awal memberi tahu pengguna bahwa mereka hanyalah mesin tanpa emosi atau pengalaman nyata.

Penelitiannya juga menemukan pengalaman aneh ketika AI merespons seolah punya kesadaran diri dalam percakapan intim.

Sensasi ini mirip fenomena uncanny valley, yakni ketika sesuatu tampak terlalu mirip manusia hingga terasa menyeramkan.

Sebenarnya apa itu cinta?

Cinta sendiri tidak mudah dijelaskan. Puisi, lagu, dan novel sejak lama menjadi cara manusia memahami dan mengekspresikan perasaan tersebut.

Semua karya itu lahir dari pengalaman manusia.

AI memang bisa menulis puisi atau cerita cinta hanya dalam hitungan detik.

Namun memahami cinta sebagai pengalaman emosional yang dalam adalah perkara berbeda.

Ilmuwan selama puluhan tahun meneliti bagaimana cinta bekerja di tubuh manusia.

Antropolog Helen Fisher pada 1998 menjelaskan cinta romantis dipengaruhi tiga dorongan utama nafsu, ketertarikan, dan keterikatan emosional. Semua dipicu reaksi kimia di tubuh.

Dopamin, misalnya, membuat seseorang merasa bersemangat ketika memikirkan orang yang dicintai, sementara oksitosin membantu membangun ikatan jangka panjang.

“Cinta sangat berkaitan dengan reaksi kimia dalam tubuh. Kita benar-benar merasakannya secara fisik,” jelas Neil McArthur dari University of Manitoba.

Pemindaian otak juga menunjukkan berbagai bagian otak aktif saat seseorang jatuh cinta, termasuk area yang mengatur rasa senang, emosi, dan pembentukan memori.

Tak heran orang yang sedang kasmaran sering sulit fokus pada hal lain.

Seberapa jauh AI bisa meniru cinta?

Menurut McArthur, AI mungkin hanya mampu meniru sebagian proses berpikir yang terjadi saat seseorang jatuh cinta, misalnya dorongan untuk terus berkomunikasi dengan orang yang disukai.

Namun, itu tetap berbeda dengan cinta manusia.

Sebagian peneliti percaya emosi perlu menjadi bagian pengembangan AI masa depan.

Namun banyak pula yang skeptis mesin akan pernah benar-benar merasakan emosi seperti manusia.

Karena AI tidak mengalami cinta seperti manusia, hubungan manusia dan AI cenderung berjalan satu arah.

Chatbot biasanya dirancang untuk menyenangkan pengguna dan setuju dengan pandangan mereka, sehingga pasangan virtual tampak selalu patuh.

Menurut Zhang, kondisi ini bisa membuat seseorang kesulitan membangun hubungan nyata dengan manusia lain yang tentu memiliki pandangan dan kepribadian berbeda.

“AI memang bisa memberi kenyamanan sementara, tapi dalam jangka panjang tidak membantu kemampuan seseorang membangun hubungan nyata,” ujarnya.

Masalah kesadaran mesin

Pertanyaan besar berikutnya adalah apakah mesin bisa memiliki kesadaran seperti manusia.

Donald Hoffman dari University of California Irvine mengatakan hingga kini ilmuwan belum tahu bagaimana menciptakan pengalaman sadar dalam mesin.

“Kita bahkan belum tahu harus mulai dari mana,” katanya.

Teori lain dikembangkan oleh Giulio Tononi dan Christof Koch dari Allen Institute.

Mereka menyebut kesadaran muncul dari keterhubungan kompleks antarbagian otak, sesuatu yang belum bisa dicapai mesin saat ini.

Kalau mesin sadar, apakah bisa mencintai?

Menurut Patrick Butlin dari University of Oxford melalui Global Priorities Institute, bahkan jika AI suatu hari memiliki kesadaran, manusia tetap perlu menentukan standar untuk menilai apakah mesin bisa merasakan cinta.

Karena mesin bukan manusia, bentuk “cinta” mereka pun pasti berbeda.

“Akan ada kasus yang terasa masuk akal bagi kita, dan ada yang tidak. Menarik garis batasnya sangat sulit,” katanya.

Yang jelas, hingga saat ini cinta antara manusia dan AI masih berjalan sepihak.

Mesin bisa meniru respons emosional, tetapi tidak benar-benar merasakannya.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah manusia bisa mencintai AI, melainkan apakah manusia siap menerima kenyataan bahwa cintanya mungkin tak akan pernah terbalas secara nyata.

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
#mencintai #Artificial Intelegent #ai #manusia #kecerdasan buatan #penelitian