HaloJember - Mendapatkan pahala Nuzulul Quran tidak terbatas hanya pada malam ke-17 Ramadan saja.
Meskipun tradisi di Indonesia menetapkan peringatan pada tanggal tersebut, para ulama menjelaskan bahwa pintu keberkahan Al-Qur'an terbuka lebar sepanjang bulan suci.
Bahkan, hingga malam ke-18 dan seterusnya. Untuk itu, beribadah tetap bisa dilakukan secara kontinu.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai fleksibilitas waktu meraih pahala Nuzulul Quran.
Perbedaan Pendapat Ulama:
Walau mayoritas memperingatinya pada malam 17 Ramadan, beberapa pendapat ulama menyebutkan peristiwa turunnya wahyu pertama bisa saja jatuh pada tanggal 17, 18, atau 19 Ramadan.
Tradisi Pesantren:
Menurut penjelasan dari Gus Baha, tradisi di berbagai pesantren sering kali mengadakan peringatan Nuzulul Quran di luar malam ke-17, seperti pada malam ke-21 atau malam-malam ganjil lainnya.
Ramadan sebagai Syahrul Qur'an:
Ramadan adalah "Bulan Al-Qur'an", setiap detik di dalamnya merupakan waktu yang mulia untuk berinteraksi dengan kitab suci. Pahala membaca satu huruf Al-Qur'an di bulan ini dilipatgandakan hingga 700 kali lipat, tanpa terbatas tanggal tertentu.
Kaitan dengan Lailatul Qadar:
Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Qur'an turun sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan.
Oleh karena itu, memburu keberkahan Nuzulul Quran sangat dianjurkan hingga akhir bulan.
Amalan yang Tetap Bisa Dilakukan setelah Malam ke-17:
Tilawah Mandiri:
Melanjutkan tadarus Al-Qur'an dengan target khataman.
I'tikaf:
Berdiam diri di masjid, terutama saat memasuki fase sepuluh malam terakhir.
Mengkaji Tafsir:
Memperdalam makna ayat-ayat yang dibaca agar Al-Qur'an menjadi pedoman hidup yang nyata.
Editor : Hariri HJ