HALOJEMBER - Dunia akademik Indonesia kembali heboh. Kali ini bukan karena prestasi, tapi karena dugaan skandal pemalsuan riset yang melibatkan oknum peneliti Indonesia di sebuah konferensi ilmiah dunia.
Kasus ini terungkap di International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 yang digelar di Kopenhagen, Denmark.
Konferensi ini adalah ajang penting bagi para ahli pneumonia dari seluruh dunia, dimana ribuan ilmuwan berkumpul di sana.
Menurut informasi yang beredar luas di media sosial, beberapa peneliti Indonesia diduga melakukan pemalsuan secara terorganisir
Baca Juga: Bisakah AI mencintai manusia atau sebaliknya? Penelitian Ini Mengungkap Hasil Mengejutkan
Akun @mandharabrasika di Thread, yang pertama kali membongkar kejanggalan ini, menulis: "Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag."
Berawal dari Threads, skandal ini merembet ke X, Instagram, hingga TikTok, memicu perdebatan di kalangan akademisi dan masyarakat umum. Nama-nama seperti Rifaldy Fajar, dan Prihantini, ikut terseret dan menjadi bulan-bulanan warganet.
Biar makin jelas, ISPPD adalah konferensi pneumonia paling prestisius di dunia, forum tempat para profesor, dokter, dan ahli epidemiologi berkumpul.
Baca Juga: FISIP Unej Gelar Diskusi Etika Penelitian pada Anak
Kasus ini memunculkan pertanyaan serius tentang pengawasan travel grant dan beasiswa luar negeri termasuk beasiswa LPDP yang diterima Prihantini untuk melanjutkan studi S2 di ITB sebagai mana dilansir dari kilat.com.
Dilansir dari HarianDisway, Rifaldy Fajar sendiri telah buka suara, menyatakan akan memberikan klarifikasi secara menyeluruh. "Kami akan klarifikasi satu per satu. Tapi mohon tunggu dulu karena kami perlu menyusun runtutannya," ujarnya
Jika kasus ini benar terbukti, akibat dari pemalsuan ini akan berpengaruh besar pada kredibilitas peneliti Indonesia di mata dunia.
Bukan hanya pelaku yang kena dampaknya, tapi hampir semua peneliti asal Indonesia merasakan getahnya.
Di satu sisi, kasus ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang merusak kredibilitas sains Indonesia.
Baca Juga: Aksi Hijau Mahasiswa UNEJ di Pantai Cemara! Tanam Mangrove dan Peduli Lansia di Desa Mojomulyo
Tapi di sisi lain, publik juga perlu bersikap hati-hati.
Sampai saat ini, kasus ini masih dalam status skandal atau diduga. Karena klarifikasi dari pihak yang dituduh masih dinanti, Jangan sampai vonis dijatuhkan sebelum semua fakta terang benderang.
Yang pasti, skandal ini telah membuka ketakutan yang selama ini mungkin hanya dibisikkan di lorong-lorong kampus dan forum akademik.(mg4)
Editor : Hariri HJ