Halo Jember – Di balik aksi menegangkan yang tersaji di setiap balapan MotoGP, para pembalap harus menghadapi tantangan fisik yang sangat berat. Tidak hanya membutuhkan kemampuan mengendalikan motor berkecepatan tinggi, kondisi tubuh juga dituntut tetap prima selama balapan berlangsung.
Jika pembalap Formula 1 (F1) harus memiliki otot leher yang kuat untuk menahan tekanan gaya gravitasi atau G-Force saat berada di kokpit, pembalap MotoGP justru lebih rentan mengalami gangguan pada bagian lengan bawah yang dikenal sebagai arm pump.
Arm pump bukanlah cedera yang muncul akibat kecelakaan atau terjatuh dari motor. Kondisi ini terjadi karena otot-otot lengan bawah bekerja secara terus-menerus saat pembalap mengendalikan motor, terutama ketika melakukan pengereman keras, berakselerasi, hingga bermanuver di setiap tikungan dengan kecepatan tinggi.
Tekanan fisik yang terjadi secara berulang membuat jaringan otot membengkak sehingga meningkatkan tekanan di dalam lengan. Akibatnya, aliran darah dan fungsi saraf dapat terganggu sehingga pembalap merasakan nyeri, kesemutan, hingga kehilangan kekuatan genggaman.
Kondisi tersebut tentu dapat memengaruhi performa pembalap di lintasan. Bahkan, dalam beberapa kasus, arm pump memaksa rider menjalani prosedur operasi untuk mengurangi tekanan pada otot lengan agar dapat kembali tampil maksimal.
Karena itu, selain kemampuan balap, pembalap MotoGP juga harus menjalani latihan fisik secara intensif untuk menjaga kekuatan, daya tahan, serta kebugaran otot lengan agar mampu menghadapi tekanan ekstrem selama balapan.(Mg3)
Editor : Viona Rj