HALOJEMBER - Sebanyak 300 tentara Jepang sudah beberapa hari berada di Kalbar. Kali ini mereka bukan datang membawa katana, apalagi Kempeitai. Mereka membawa tiga helikopter berat CH-47 Chinook untuk membantu memadamkan Karhutla.
Kedatangannya pun disambut meriah oleh Pemprov Kalbar. Ada seremoni, iringan musik, upacara ini-itu. Bak tamu kehormatan. Netizen langsung ramai. Ya sudahlah. Namanya juga tamu, masa disambut pakai asap Karhutla.
Di lapangan, masyarakat juga antusias. Selfie bertebaran. Tentara Jepang mendadak bak artis. Ada polisi Indonesia makan nasi bungkus bersama tentara Jepang di lokasi Karhutla.
Baca Juga: Karhutla: Ratap Bumi yang Tak Kunjung Sembuh, Opini oleh Salim Abuzaid
Zaman memang berubah. Dulu melihat seragam Jepang di Kalbar bisa bikin orang gemetar. Sekarang melihat seragam yang sama malah cari kamera. Itulah manusia. Ingatan kadang kalah cepat dengan kamera ponsel.
Sekitar 180 personel militer Jepang, beberapa laporan menyebut hingga 300 personel, diterjunkan ke Kalbar. Mereka datang menggunakan kapal JS Kunisaki yang merapat di Pelabuhan Kijing, Mempawah, pada 9–10 September 2026.
Tiga Chinook disiapkan untuk water bombing, membantu menjangkau titik api yang sulit ditangani pasukan darat. Operasi dijadwalkan berlangsung 21 hari, dengan Pontianak dan Bandara Supadio sebagai bagian dari pusat koordinasi.
Baca Juga: Maulid di Tengah Karhutla: Superbeing atau Khalifah? Opini oleh Nurul Huda
Ini bantuan patut diapresiasi. Tetapi ada satu hal jangan sampai ikut terbakar bersama hutan, ingatan sejarah. Sebab Kalbar punya Mandor.
Peristiwa Mandor berlangsung sekitar Oktober 1943 hingga 28 Juni 1944. Menurut data resmi Pemprov Kalbar, sekitar 21.037 jiwa menjadi korban pembantaian tentara Jepang. Angka itu bukan statistik biasa. Di dalamnya ada manusia.
Ada 12 pemimpin kesultanan Melayu, cerdik pandai, tokoh politik, dan rakyat biasa. Korbannya berasal dari berbagai kelompok: Melayu, Dayak, Jawa, Bugis, Batak, Minangkabau, Manado, Tionghoa, Arab, India dan lainnya.
Satu generasi hebat Kalbar dihantam. Struktur pemerintahan lokal porak-poranda. Kaum terpelajar hilang. Trauma diwariskan. Perlawanan rakyat pun muncul.
Lalu hari ini? Tentara Jepang datang. Kita sambut. Kita foto. Kita senyum. Kita makan nasi bungkus. Lalu Chinook terbang menjatuhkan air ke titik api. Ironis? Ya. Tetapi bukan berarti kita harus membenci Jepang selamanya.
Tentara Jepang hari ini bukan tentara Jepang tahun 1943. Mereka datang sebagai mitra kemanusiaan. Sejarah tidak boleh berubah menjadi dendam turun-temurun. Justru di situlah kedewasaan sebuah bangsa diuji. Kita bisa memaafkan tanpa melupakan. Kita bisa bekerja sama tanpa menghapus luka. Kita bisa selfie dengan tentara Jepang hari ini sambil tetap mengenang korban Mandor kemarin.
Yang agak lucu, dengan Belanda pernah menjajah Indonesia begitu lama, kita pun sekarang bisa santai menerima turisnya. Kalau mereka datang membawa kamera, kita malah ikut foto.
Tetapi ada negara tidak pernah menjajah Indonesia, malah bisa dimusuhi sampai hari ini. Kalian pasti tahu negaranya. Waduh.
Berarti memori bangsa ini kadang seperti Wi-Fi warung kopi. Sinyalnya kuat, tetapi sambungannya suka ke jaringan yang salah.
Maka, silakan sambut tentara Jepang. Silakan apresiasi Chinook. Silakan selfie. Silakan makan nasi bungkus bersama. Tetapi jangan selfie sampai lupa Mandor. Sebab bangsa besar bukan bangsa tidak punya luka.
Bangsa besar adalah bangsa mampu mengingat lukanya, memaafkan masa lalunya, lalu bekerja sama membangun masa depan. Semoga Chinook berhasil memadamkan Karhutla. Semoga sejarah tetap menyala di kepala kita. Api di hutan kita padamkan. Api kebencian kita matikan. Tetapi cahaya ingatan jangan pernah kita padamkan.
"Bang, kalau dah selesai nanti, boleh mereka diajak ngopi di Asiang."
"Mudahan mereka mau diajak seruput Koptagul, wak," jelasnya.
Editor : Hariri HJ