HALOJEMBER – Banyak orang yang biasanya cukup hemat, tiba-tiba menjadi lebih boros saat Lebaran.
Pengeluaran meningkat drastis dalam waktu singkat, bahkan sering kali di luar rencana.
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial.
Psikolog keuangan, Siti Aulia Rahman menjelaskan bahwa Lebaran merupakan momen yang sarat emosi. Perasaan bahagia, ingin berbagi, dan tekanan sosial membuat seseorang lebih mudah mengambil keputusan finansial secara impulsif.
“Dalam kondisi emosional, orang cenderung kurang rasional dalam mengelola uang,” jelasnya.
Menurutnya, dorongan untuk memenuhi ekspektasi sosial juga menjadi faktor utama. Banyak orang merasa perlu mengikuti standar tertentu agar tidak terlihat berbeda.
Hal ini bisa berupa pemberian THR, penyediaan makanan, hingga penampilan saat Lebaran.
“Ada tekanan tidak langsung untuk ‘menyesuaikan diri’ dengan lingkungan,” ujarnya.
Selain itu, adanya momen langka seperti berkumpul dengan keluarga juga membuat orang cenderung ingin memberikan yang terbaik, meski harus mengeluarkan biaya lebih.
Faktor promosi dan diskon juga turut memengaruhi perilaku konsumtif. Banyaknya penawaran menjelang Lebaran membuat seseorang lebih mudah tergoda untuk berbelanja.
“Diskon itu sering jadi pemicu keputusan yang sebenarnya tidak direncanakan,” katanya.
Untuk menghindari perilaku boros, ia menyarankan agar seseorang lebih sadar terhadap kondisi emosionalnya saat mengambil keputusan finansial.
Memberi jeda sebelum membeli sesuatu bisa membantu mengurangi pembelian impulsif.
“Coba tunda sebentar, biasanya keinginan itu akan berkurang,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa memahami pola perilaku diri sendiri menjadi kunci dalam mengelola keuangan.
“Kalau tahu pemicunya, kita bisa lebih mengontrol,” pungkasnya.
Editor : Yulio Faruq Akhmadi