HALOJEMBER - Prestasi membanggakan diraih oleh Kabupaten Jember setelah berhasil mendapatkan bantuan nasional sebesar Rp300 juta yang diperuntukkan bagi program cetak pengusaha batik muda guna meningkatkan daya saing UMKM di kancah ekonomi kreatif indonesia harian
Adanya bantuan nasional Rp300 juta untuk pengusaha batik muda di Jember menjadi stimulus besar bagi bisnis kreatif dengan memanfaatkan potensi kekayaan motif batik khas daerah di sektor industri kreatif tanah air yang bergerak sangat kompetitif.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 2 Juli 2026: Simak Rincian Harga Terbaru dan Tren Investasi Logam Mulia
Program cetak pengusaha batik muda melalui bantuan nasional Rp300 juta di Jember ini terbukti sukses memicu antusiasme tinggi dari para pelaku bisnis pemula karena memberikan akses modal dan pelatihan teknis yang sangat komprehensif harian.
Dana segar tersebut diterjemahkan menjadi program pelatihan untuk 50 anak muda berusia 17 - 24 tahun untuk menjadi pembatik. Selama 50 hari ke depan, mereka akan digembleng secara intensif di Desa Pringgondani.
Langkah besar ini bermula dari apresiasi yang diterima pemerintah daerah melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Jember.
"Kami tidak ingin pelatihan ini hanya jadi seremonial. Goal-nya jelas, mereka harus mandiri secara ekonomi," kata Wakil Sekretaris Dekranasda Jember, Puspita Yuandini, saat ditemui (29/6).
Menariknya, pelatihan ini didesain sangat komprehensif dari hulu ke hilir. Para peserta tidak hanya diajari cara memegang canting atau meramu warna di atas kain.
Lebih dari itu, mereka dibekali ilmu manajerial modern. Mulai dari pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) agar usaha mereka legal, hingga strategi perang di pasar digital (digital marketing).
Yuandini menambahkan, program di bawah komando Ketua Dekranasda Jember, Ning Ghyta Eka Puspita, ini sengaja ditaruh di pelosok desa.
Kepala Desa Pringgondani, Rudi Haryanto, mengapresiasi keberadaan program ini yang akhirnya bisa menyasar warganya.
Ia meyakini melalui program ini, batik khas Jember tidak hanya akan abadi sebagai warisan budaya, tetapi juga menjelma menjadi motor penggerak ekonomi baru.
"Semoga dengan ini, warga desa kami bisa lebih mandiri dan dapat meningkatkan perputaran perekonomian," harapnya.
Mengamati bagaimana taktik manajemen usaha serta mekanisme bantuan nasional Rp300 juta untuk pengusaha batik muda di Jember diterapkan oleh pelaku bisnis menjadi materi studi ekonomi kreatif yang sangat berbobot untuk diikuti.
Editor : Rifki Bagus