HALOJEMBER - Indonesia dikenal dengan keberagaman budaya, adat dan bahasanya. Negeri yang membentang dari Sabang sampai Merauke ini memiliki sebanyak 1.340 suku bangsa.
Sebagai pembeda, tiap suku memiliki ciri khas masing-masing yang mewakili keotentikan daerah tersebut misalnya pakaian adat.
Baca Juga: Asal Mula Munculnya Budaya Pandhalungan Jember, Ternyata Gara-gara ini
Baju kebaya diresmikan menjadi baju khas nasional yang identik dengan wanita nusantara. Perpaduan kain batik, desain, dan motif tertentu memberikan aura elegan dan wibawa seorang wanita. Lantas, bagaimana perjalan kebaya Indonesia hingga diakui UNESCO?
Sejarah dan filosofi kebaya
Dahulu, masyarakat Indonesia masih beragama Hindu dan Buddha, kain sepotong tidak boleh dijahit karena dianggap sakral dan bermakna.
Sejak abad ke-14 melalui perdagangan, pakaian masyarakat mulai mengalami perkembangan dengan pengaruh budaya asing dari Tiongkok, India, Portugis dan Timur Tengah.
Baca Juga: Berikut 7 Tips Jitu untuk Pemula Freelance, Jaga Keseimbangan Antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi
Tahun 1600, wanita keraton mulai mengadopsi baju atasan untuk menutupi diri mereka. Inilah awal kebaya menjadi busana populer dan simbol status di kalangan keluarga kerajaan di Cirebon, Surakarta, dan Yogyakarta.
Pada era Kartini, kebaya juga dikenakan oleh perempuan Belanda dipadukan dengan kain batik, menunjukkan akulturasi budaya yang terjadi.
Baca Juga: Adidas akan Rilis Gamis Edisi Ramadan, Karya Unik Kolaborasi Desainer Perancis
Saat ini, kebaya telah berevolusi menjadi simbol identitas nasional Indonesia, dikenakan pada berbagai acara resmi dan perayaan.
Kebaya modern tetap mempertahankan elemen tradisionalnya sambil mengadopsi gaya dan tren kontemporer, menunjukkan kemampuan busana ini untuk beradaptasi dan tetap relevan di berbagai era.
Kebaya diputuskan untuk menjadi busana nasional Indonesia pada Lokakarya tahun 1978 di Jakarta.
Pada lokakarya tersebut, pengamat mode dan budayawan sepakat bahwa kebaya memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya layak menjadi representatif busana nasional.
Kebaya dinilai cocok untuk mencerminkan semangat kebangsaan serta simbol feminisme perempuan Indonesia.
Dilansir dari AntaraNews, kebaya labuh dan kebaya kerancang telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO yang diumumkan pada sidang ke-19 Komite untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO di Asunción, Paraguay, 4 Desember 2024 lalu.
Jenis kebaya tersebut bahkan diajukan sebagai Single Nomination dalam pengajuan bersama oleh lima negara ASEAN yakni Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Editor : Halo Jember