HALOJEMBER - Kebaya diputuskan untuk menjadi busana nasional Indonesia pada Lokakarya tahun 1978 di Jakarta. Pada lokakarya tersebut, pengamat mode dan budayawan sepakat bahwa kebaya memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya layak menjadi representatif busana nasional.
Baca Juga: Mengenal Sejarah dan Filosofi Kebaya, Pakaian Khas Perempuan Indonesia
Kebaya dinilai cocok untuk mencerminkan semangat kebangsaan serta simbol feminisme perempuan Indonesia.
Dilansir dari AntaraNews, kebaya labuh dan kebaya kerancang telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO yang diumumkan pada sidang ke-19 Komite untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO di Asunción, Paraguay, 4 Desember 2024 lalu.
Jenis kebaya tersebut bahkan diajukan sebagai Single Nomination dalam pengajuan bersama oleh lima negara ASEAN yakni Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Kebaya Labuh, Riau
Mayoritas penduduk berasal dari suku Melayu, tak jarang Riau memiliki kesamaan budaya dengan Sumatera, Malaysia, dan Singapura. Kebaya Labuh menjadi baju adat Riau yang memancarkan kecantikan wanita Melayu.
Baca Juga: Pembangunan Terminal Alun Rampung, Banyak Lahan Kosong Akan Dibangun Mall di Terminal
Kebaya labuh merupakan pakaian adat tradisional perempuan Melayu asal Riau. Sekilas kebaya labuh sama dengan model kebaya pada umumnya, akan tetapi memiliki ukuran yang lebih panjang hingga lutut, kebaya ini memiliki konsep serupa dengan baju kurung.
Bedanya, bagian depan kebaya labuh berbentuk A dengan potongan yang mengerucut ke atas memberi kesan terlihat lebih terbuka dan melebar.
Baca Juga: Fakta Terungkap! Ternyata ini Sosok Aseli Dibalik Drama The Trauma Code : Heroes on Call
Kebaya labuh terbuat dari kain tenun khas Riau dan terdiri dari kain serta selendang. Panjang lengan baju sekitar dua jari dari pergelangan tangan, dan lebarnya sekitar tiga jari dari permukaan lengan, agar gelang yang dikenakan perempuan bisa terlihat. Kedalaman baju bervariasi, dari atas betis hingga sedikit ke atas.
Baju adat kebaya labuh juga mengandung filosofi dan nilai-nilai khusus yang tercermin dalam warna, bentuk, dan modelnya. Pakaian adat Kepulauan Riau ini memiliki nilai filosofis tertentu seperti nilai semangat, syukur, nilai kejujuran dari masyarakat Riau.
Warna yang dominan meliputi kuning keemasan, hijau lumut, dan merah darah, yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang Melayu di Tanah Kuning Sassy.
Misalkan warna hijau lumut sering dipakai oleh keturunan bangsawan, Tengku dan Wan yang melambangkan kesuburan, kesetiaan, taat, dan kepatuhan. Merah darah memiliki arti kepahlawanan dan keberanian, taat dan setia kepada Raja dan rakyat.
Serta warna hitam yang menggambarkan kesetiaan, ketabahan dan bertanggung jawab dan kejujuran. Warna kuning keemasan dimaknai sebagai kebesaran, otoritas dan kemegahan.
Konon, warna kuning tidak boleh dipakai rakyat biasa karena identik dengan kejayaan Kerajaan Siak, Riau Lingga, Indragiri dan Pelalawan.
Dengan berbagai model yang diadaptasi saat ini, kebaya labuh sering digunakan pada acara-acara tertentu seperti upacara adat, pernikahan dan sebagainya.
Kebaya Kerancang, DKI
Kebaya kerancang atau lebih dikenal dengan nama lain kebaya Encim menemani kebaya labuh dalam peresmian oleh UNESCO. Jenis baju adat asal budaya Betawi ini hadir dengan gabungan budaya Melayu, Belanda, dan Tionghoa.
Kata “encim” berasal dari bahasa Hokkien yang berarti “bibi”, sebutan ini dipilih karena secara histori kebaya digunakan oleh perempuan golongan menengah atas.
Disertai motif bordir berupa flora atau fauna dengan bordiran yang berlubang, kebaya ini juga disebut dengan “kerancang” yang berarti berlubang dalam bahasa Sanskerta.
Kebaya Encim memiliki ciri khas potongan yang longgar dan kerah bulat serta jahitan benang emas atau perak sebagai hiasan. Bagian bawah kebaya ini juga dihiasi rumbai-rumbai.
Salah satu ciri khasnya adalah bagian depan yang lebih panjang dibandingkan bagian belakang serta adanya border di sisi pinggir kebaya menambah kesan anggun dan dewasa wanita Betawi.
Tersedia berbagai model menjadikan kebaya ini lebih bervariasi misalnya motif bunga persik, anyelir, binatang dan sebagainya dengan makna masing-masing.
Misal Burung merak melambangkan kebahagiaan, burung phoenix melambangkan kesejahteraan, dan kura-kura melambangkan umur yang panjang.
Editor : Halo Jember