Ungkap Dampak dari Fast Fashion yang Justru Merusak Lingkungan

Halo Jember • Dipublikasikan Senin, 17 Februari 2025 | 18:14 WIB
tumpukan sampah (Radar Jember)
tumpukan sampah (Radar Jember)

HALOJEMBER- Fenomena fast fashion telah terjadi secara global yang sulit untuk dihindarkan, hal ini karena diikuti dengan gaya hidup masyarakat yang semakin konsumtif beberapa tahun ini.

Industri fesyen cepat sudah memiliki dampak yang terbilang parah terhadap lingkungan dan manusia sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, industri pakaian menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia.

Baca Juga: Capsule Wardrobe Menjadi Konsep Baru Fashion yang Digemari GenZ

Tentu, limbah dari pakaian ini menjadi permasalahan yang serius, selain karena jumlahnya yang begitu besar, pakaian yang terbuang juga tidak ramah akan lingkungan. Kebanyakan limbah dari industri pakaian mengandung bahan sintetis, polyester dan nilon.

e paper

Cara baru baca koran! Lebih Praktis dengan koran digital dan e-paper
Cara baru baca koran! Lebih Praktis dengan koran digital dan e-paper

Bahan-bahan ini, yang sulit terurai hingga akhirnya menimbulkan penumpukan limbah tekstil yang kemudian mengancam lingkungan juga sumber daya alam.

Fast Fashion merupakan fenomena dalam industri fesyen, yang melakukan percepatan produksi pakaian dalam jumlah yang besar. Ini adalah salah satu model bisnis yang ditujukan untuk mengikuti model terbaru.

Baca Juga: Peduli Kebersihan, Polisi Kerja Bakti Angkut Tumpukan Sampah di Kawasan Jember Kota

Dikarenakan fast fashion sering mengikuti tren-tren di dunia, maka kuantitas lebih diutamakan dibandingkan kualitas barangnya. Kebanyakan hasil dari produk fast fashion mengutamakan harga yang rendah dan perubahan koleksi secara cepat.

Baca Juga: Suguhkan Cerita Zombie Romantis, Drama Newtopia yang Dibintangi Jisoo Blackpink Raih Rating Tinggi

Dampak dari Fast Fashion

Adapun macam-macam dampak dari Fast Fashion mengarah pada beberapa hal. Fast Fashion sangat berdampak pada lingkungan dan sumber daya alam. Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, proses produksi pakaian dalam industri tekstil jenis fast fashion dikenal sebagai salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia.

Baca Juga: Aktris Kim Sae Ron Ditemukan Meninggal di Rumahnya, Polisi Masih Selidiki Penyebab Kematiannya

Bahkan, limbah pakaian telah terbaca di satelit, letaknya ada di Gurun Atacama Chili. Pakaian bekas tersebut berasal dari berbagai negara, seperti Amerika Utara, Eropa, juga Asia. Ditambah lagi, terdapat pembuangan rahasia di gurun pasir yang terletak dekat dengan Alto Hospicio.

Selain pembuangan limbah tekstil di Gurun, ternyata cukup banyak bahan-bahan tekstil dibuang ke laut dengan bahan rata-rata polyester atau mengandung plastik, dimana menimbulkan pencemaran mikroplastik. Pembuangan limbah tekstil ke laut sangat berbahaya bagi biota laut.

Apabila ikan mengonsumsi tidak sengaja mikroplastik dan kemudian ikan tersebut dikonsumsi manusia, maka dampak tersebut berlanjut ke manusia itu sendiri. Mikroplastik sendiri memiliki sifat karsinogenik yang bisa menyebabkan manusia terkena autoimun, bahkan kanker.

Dampak lain dari Fast Fashion adalah perilaku konsumsi cenderung menjadi berlebihan, dan hanya melakukan konsep sekali pakai terhadap pakaian.

Hal ini dikarenakan, produksi yang mengikuti tren setiap beberapa minggu, membuat konsumen berkeinginan untuk mengenakan pakaian sesuai dengan gaya pakaian terbaru.

Akibatnya, mereka hanya menggunakan beberapa kali, kemudian membiarkan tertimbun di lemari atau membuangnya.

Konsep fast fashion telah menyatu dengan gaya hidup modern zaman ini. Selain karena tren fesyen yang berganti beberapa minggu sekali, kemajuan teknologi dan hadirnya e-commerce yang membuat kemudahan aksesibilitas konsumen. Fasilitas tersebut sangat memungkinkan siapa saja untuk membeli pakaian baru, hanya dengan berduduk santai di rumah.

Dampak yang diterima adalah lahirnya generasi yang konsumtif dan lebih responsif terhadap perubahan tren fesyen. Permasalahan yang awalnya dibuat oleh manusia, secara tidak langsung dampaknya diterima oleh manusia juga.

Ditengah arus fast fashion yang masih menguat, sebagai individu perlu untuk mengambil langkah-langkah yang bijaksana untuk menyelamatkan lingkungan dan sesama manusia.

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan, justru turut mengambil langkah tegas untuk mengurangi produksi dan pembuangan limbah secara aman, supaya tetap menjaga lingkungan dan sumber daya alam di dalamnya.

 

Penulis : Syahidah Dina Ilmasya

Editor : Halo Jember
industri pakaian fast fashion sampah