JEMBER, Halo Jember - Pagelaran Jember Fashion Carnaval (JFC) tahun ini disebut sebagai yang paling meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya berkat kolaborasi besar dengan berbagai pihak.
Mengusung konsep green carnival yang menekankan kepedulian lingkungan, sepuluh defile yang tampil pada Grand Carnival (10/8) berhasil memukau ribuan warga Jember.
Dari sepuluh defile tersebut, Defile Allograph menjadi sorotan karena mengeksplorasi keindahan dan perkembangan aksara dari berbagai budaya dunia, mulai hanacaraka Jawa kuno hingga hanzi Tiongkok.
Penonton juga diajak mengagumi pencapaian besar manusia dari masa ke masa, seperti kemegahan Tembok Besar China melalui Defile Great Wall of China hingga keberhasilan di bidang antariksa lewat Defile Aerospace.
Presiden JFC, Budi Setiawan, mengatakan, gelaran tahun ini lebih istimewa berkat keterlibatan komunitas seperti Sakuranesia yang menjembatani pertemuan seniman dan delegasi Jepang, memperkuat tema Evoluxion.
Selain itu turut berkolaborasi Batavia PIK sebagai lokasi pre-event dan media hub yang memperkenalkan JFC pada audiens di Jakarta.
“Selain itu dukungan pemkab juga sangat baik, semangatnya terlihat sekali sehingga kami tidak kesulitan dalam berkoordinasi dalam upaya mewujudkan Jember jadi kota fashion dunia,” terangnya.
Pria yang akrab disapa Iwan itu menegaskan bahwa JFC tidak akan berhenti hanya sebagai karnaval tahunan, melainkan menjadi sarana untuk menjadikan Jember pusat fashion dunia.
“Kami sudah mendeklarasikan Jember sebagai kota fashion Indonesia dan Dunia,” tegasnya.
Dia menambahkan bahwa gelaran tahun depan akan dibuat lebih spektakuler karena Jember adalah pusat ekonomi kreatif.
“Jember memiliki segalanya untuk jadi pusat ekraf, mulai dari kreativitas fashion dan kostum, musik, UMKM dan sebagainya, ini harus dikembangkan bersama-sama,” tuturnya.
Duta JFC, Bubah Alfian, mengatakan bahwa dari sisi artwear, tahun ini lebih menarik karena melibatkan desainer internasional selain desainer Indonesia.
“Terus juga para selebriti, para penyanyi, juga Putri Indonesia, kami gabung jadi satu,” katanya.
Konsep artwear tahun ini juga diperkaya unsur teater yang dibuat lebih mudah dipahami oleh milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha.
“Tapi teater itu susah untuk diresapi oleh beberapa orang. Nah, kita bikin teater yang versi lebih mudah diresapi oleh milenial dan juga Gen Z bahkan Gen Alpha nantinya.” katanya. (yul/kin)
Editor : Sidkin