Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Dari Tren ke Tantangan: Nasib Lapak Thrift di Jember Dalam Bayang-Bayang Regulasi

Dwi Siswanto • Sabtu, 8 November 2025 | 22:04 WIB

 

TRIFT JEMBER diambil sendiri  Teks Foto: salah satu pedagang Thrift di wilayah Mangli
TRIFT JEMBER diambil sendiri Teks Foto: salah satu pedagang Thrift di wilayah Mangli

Halo Jember- Thrifting di kota Jember sempat berada di bawah bayang-bayang pemerintah kabupaten Jember.

Pasalnya pemerintah menganggap keberadaan pasar thrifting ini dapat mengancam keberadaan ukm ukm yang bergerak dibidang tekstil dalam negeri.

Sekitar tahun 2023 pemerintah kabupaten Jember melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) berencana melakukan sosialisasi terkait larangan impor baju bekas.

Namun kenyataannya hingga saat ini tidak ada pemberitaan yang memastikan bahwa rencana sosialisasi ini direalisasikan atau tidak.

Realitanya isu-isu larangan menjual pakain bekas ini hanya angin lalu bagi para penjual babebo di kota Jember ini, pasalnya setelah ada pemberitaan lapak thrif tetap ramai dikunjungi oleh masyarakat, mulai dari anak sekolah, mahasiswa hingga ibu rumah tangga turut meramaikan kios pakaian bekas ini.

Salah satu mahasiswa yang menjadi pelanggan lapak thrift mengatakan bahwa membeli pakian di kios thrift ini merupakan alternatif berbelanja pakaian yang kualitas bagus tetapi masih ramah di kantong “Saya sering berbelanja disini karena harganya sangat terjangkau jika dikomparasikan dengan harga baju baru, kalau pintar memilih pasti dapat baju bermerk dengan harga yang murah” ujar Angga salah satu pelanggan thrift di wilayah Mangli.

Tetapi suara berbeda datang dari sisi pedagang, seorang pedagang thrift di Pasar Mangli mengaku  “Pendapatan tidak sebanyak dulu, pembeli juga tidak seramai dulu, kadang sehari hanya dapat 300 ribu” ujarnya.

Menurutnya pedagang thrif di Jember semakin banyak mulai dari berdagang di pasar pasar sampai membuat ruko sendiri.

Sepinya lapak otomatis berimbas pada pendapatan.

Jika dulu hasil penjualan mampu menopang kebutuhan harian, kini jumlah pemasukan kian menipis.

Sepinya lapak thrift ternyata bukan hanya imbas dari larangan penjualan pakain bekas tetapi juga karena semakin menjamurnya lapak lapak penjualan thrift mulai dari pasar tradisional, ruko ruko, hingga toko pinggir jalan.

Baca Juga: Diduga Depresi, Seorang Anak di Jenggawah Jember Tega Habisi Ibu Kandung dengan Alat Ini

Sementara itu larangan penjualan barang bekas yang sempat ramai justru tak banyak berpengaruh.

“Kalau perihal larangan, saya rasa orang-orang juga sudah lupa.

Yang bikin berat itu saingan semakin banyak, jadi pembeli terbagi-bagi” ungkap seorang pedagang di lapak thrift Mangli Jember.

Ia masih setia menggantungkan dagangan di lapak kecilnya sejak tahun 2000 hingga saat ini.

Meski pendapatan tidak menjanjikan dan pembeli tak lagi seramai dulu, pedagang thrift di Jember memilih tetap bertahan.

Larangan impor pakaian bekas yang sempat ramai tak menyurutkan semangat mereka. Bagi para pedagang, thrift masih menjadi sumber penghidupan sekaligus pilihan alternatif bagi konsumen di tengah harga pakaian baru yang terus naik.   

Penulis: Tazyinatul Ilmiah

Editor : Dwi Siswanto
#penjual babebo #dinas perindustrian dan perdagangan #tekstil dalam negeri #kebutuhan harian #thrift