Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Suwar Suwir

Deteksi Hemofilia sejak Dini, Penyakit Langkah Kelainan Darah

Halo Jember • Minggu, 12 Mei 2024 | 04:50 WIB
Ilustrasi sel darah merah (Foto : Hello Sehat)
Ilustrasi sel darah merah (Foto : Hello Sehat)

HALOJEMBER.COM- Masih asing dengan penyakit kelainan darah hemofilia? Penyakit tersebut merupakan gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembekuan darah.

Hal tersebut memang cukup langka. Bahkan hanya satu dari seribu anak yang dilahirkan berpotensi menjadi penderita. Namun demikian, penting untuk dilakukan deteksi sejak dini.

Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Umum Kaliwates Jember, Atika Purnamasari, mengatakan, hemofilia merupakan penyakit kelainan pembekuan darah akibat defisiensi protein yang diperlukan dalam pembekuan darah.

Hal tersebut merupakan penyakit keturunan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya. “Dampaknya bisa berupa pendarahan,” katanya.

Dia juga menyebut, hemofilia merupakan kelainan bawaan yang diturunkan oleh kromosom X. Biasanya perempuan yang berperan membawa penyakit ini.

Kemudian, secara langsung diturunkan kepada anak laki-lakinya. Tak heran jika pasien penyakit ini lebih banyak laki-laki.

“Perempuan mempunyai gen pembawa atau carrier untuk hemofilia. Makanya harus dilakukan screening sejak dini,” tegasnya.

Perempuan yang akrab disapa dr Atika ini juga menjelaskan, ada tiga kategori hemofilia, yakni A, B, dan C.

Namun, yang paling banyak dijumpai adalah hemofilia A, yang disebabkan kekurangan faktor VIII atau antihemofilik.

Sementara, tipe B yang disebabkan kekurangan faktor IX atau plasma thromboplastin component (PTC).

Serta tipe C yang disebabkan faktor 11 atau plasma thromboplastin antecedent (PTA), menurutnya masih jarang dijumpai.

Gejala bagi penderita hemofilia di antaranya lebam secara tiba-tiba pada bagian tubuhnya, tanpa benturan atau kontak fisik yang berlebihan.

Gejala lainnya adalah ketika luka darahnya sulit untuk berhenti keluar. Gejala satu ini biasanya ditemui saat sunat.

“Penderitanya biasanya juga mengalami nyeri sendi,” ujarnya.
Untuk mengatasinya, maka perlu dilakukan diagnosis terlebih dahulu, faktor apa yang dianggap kurang.

Sehingga biasanya dilakukan penyuntikan faktor yang dianggap kurang. Hal tersebut dilakukan selama satu pekan atau satu bulan sekali. Suntikan antihemofilia disesuaikan dengan berat badan penderitanya. (ham/c2/mau)

Editor : Halo Jember
#penyakit #hemofilia #kelainan darah